Madrasah Da’wah dan Islam

Perkara mimpi dalam usaha da’wah

Posted by: Haitan Rachman on: September 11, 2007

Perkara-III Rev 1.1 – 8 April 2007:

Saat ini pandangan yang sangat berlebihan disampaikan terhadap usaha da’wah ini, salah satunya dihubungkan terhadap penjelasan ayat 3:110 yang diperoleh oleh Maulan Ilyas RH melalui mimpi.

Saudara-saudara,
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mimpi seseorang dapat benar, ataupun juga keliru. Agama kita sudah menjelaskan dengan cukup lengkap dalam beberapa keterangan, termasuk dalam kitab hadits seperti Kitab Shohih Muslim. (Silahkan pelajari: Bagian yang berhubungan dengan mimpi dalam Kitab Shohih Muslim).


Tetapi sebelumnya marilah kita pelajari dua mimpi yang perlu menjadi perhatian kita kaum muslimin, karena kedua-duanya dijelaskan dengan baik sekali di dalam Al-quran. Sehingga dengan hal ini, kita tidak serta merta menyalahkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan mimpi itu sendiri.

Allah swt merekam dua mimpi yang sangat penting ke dalam al-quran, dan kedua-duanya agar manjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua. Di bawah ini merupakan kisah mimpi Raja dan penjelasannya oleh Nabi Yusuf AS.

Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering.” Hai orang-orang yang terkemuka: “Terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat mena’birkan mimpi.”

Mereka menjawab: “(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta’birkan mimpi itu.”

Dan berkatalah orang yang selamat diantara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya: “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena’birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).”

Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.”

Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.”

Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.

Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur.” QS Yusuf: 43-49

Mimpi seseorang, termasuk mimpi seorang raja dianggap hal yang biasa bagi kebanyakan orang, tetapi ketika ditanyakan kepada Nabi Yusuf As, maka mimpi ini memberikan sebuah makna yang sangat penting bagi negeri yang bersangkutan. Disini ada sebuah pelajaran yang berharga bagi kita bahwa mimpi seseorang itu dapat mempunyai makna. Oleh karena itu Rasulullah SAW menjelaskannya dengan baik, supaya kita kaum muslimin tidak keliru dengan hal-hal yang berhubungan dengan mimpi. Oleh karena itu, kitab hadits seperti Imam Muslim menjelaskannya dengan cukup baik, termasuk adab-adab yang berhubungan mimpi itu.

Karena boleh jadi mimpi itu akan menjadi sebuah malapetaka atau cobaan bagi masyarakat tertentu, jika keliru dihadapinya. Perhatikan mimpinya Raja Firaun. Al-quran menjelaskan mimpi dengan sangat baik sekali, dan kita kaum muslimin perlu mendapatkan pelajaran terhadap kedua kisah ini itu.

Sama halnya dengan mimpi dari Maulana Ilyas RA terhadap gambaran atau penjelasan 3:110. Beliau ini adalah seorang Muslim yang dibesarkan di lingkungan yang cukup baik pertumbuhannya, dimana keluarga beliau merupakan keluarga yang banyak kepahaman terhadap agama Islam ini, bahkan keluarga para hafidz quran. Dan beliau sendiri mendapatkan pelajaran-pelajaran Islam, termasuk juga dengan sejarah Islam dan juga hadits Rasulullah SAW.

Sehingga mimpi seperti ini bagi Maulana Ilyas RH sendiri merupakan sesuatu hal yang perlu menjadi perhatiannya, karena hal ini jelas jarang terjadi bagi beliau sendiri. Apalagi perkara da’wah ini sudah menjadi perhatian beliau bertahun-tahun dalam kajian dan pendalamannya. Dan yang perlu kita pahami adalah beliau sendiri tidak membuat aturan atau hukum baru dalam Islam, tetapi beliau lebih menekankan kepada metoda atau cara penerapan da’wah Islam.

Dan beberapa ulama yang banyak berhubungan dengan beliau ini, tidak hanya mengandalkan pada mimpi itu saja. Tetapi melakukan kajian secara lebih mendalam terhadap sumber-sumber para ulama salafush sholeh terdahulu. Dan salah satu kitab yang dapat memperlihatkan seluk-beluk usaha da’wah ini secara sangat gamblang, yaitu Kitab Hayatush Shahabah yang disusun oleh Maulana Yusuf RH sendiri, sebagai ulama dan juga pemimpin da’wah ini.

Kami sendiri yang sudah cukup lama berhubungan dengan usaha da’wah ini, tidak hanya mengandalkan pada mimpi seseorang, karena hal itu sebenarnya merupakan bentuk gambaran sesuatu hal ketika seseorang banyak mendalami atau memfokuskan pada hal yang berhubungan dengan hal tertentu itu. Sehingga kami sendiri lebih terfokus pada pendalaman beliau, bukan pada mimpinya. Ini merupakan sesuatu yang fair secara ilmiyyah.

Apakah kita hanya terfokus pada kejadian aneh seseorang yang menemukan stetoskop, atau alat stetoskopnya itu. Padahal penemuan itu ditemukan secara kebetulan, ketika bermain-main dengan anak-anak kecil. Apakah kita hanya terfokus kejadian lucu ketika ditemukan hukum archimides, atau pada teorinya? Termasuk professor kami dalam bidang kelistrikan, ketika menemukan formula yang sangat penting saat memasukkan benang pada lubang kancing. Apakah kita memfokuskan pada kejadiannya, atau pada teorinya? Masih banyak kejadian yang unik untuk bidang-bidang yang cukup fundamental. Disinilah kita harus bijak dan lebih ilmiyyah dalam berpikir.

Kembali lagi terhadap mimpi itu Maulana Ilyas RH itu, kita boleh percaya atau tidak. Semuanya dipersilahkan kepada kaum muslimin sendiri, yang penting bagi kita kaum muslimin bahwasanya Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan mimpi dengan jelas, termasuk juga dengan adab-adabnya dengan baik, dalam Kitab Shohih Muslim dijelaskannya termasuk juga dalam syarahnya yang disusun Imam Nawawi.

Jika kita perhatikan dan juga pelajari kitab Hayatush Shahabah dengan baik, maka dapat disimpulkan bahwa usaha da’wah ini sebenarnya membawa terhadap kerangka Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Dan bentuk metoda penyebarannya adalah kepahaman terhadap QS 3:110, dimana kaum muslimin sebagai bagian dari manusia itu sendiri perlu disebarkan dan ditampilkan di hadapan manusia seluruh alam ini sebagai penyeru kepada Islam. Penjelasan ini merupakan kerangka yang sangat fitrah, karena kaum muslimin akan mempunyai peran komunikasi yang interaktif dan dinamis dengan berbagai lapisan masyarakat dan juga manusia itu sendiri.

Dan jika kita pelajari kitab-kitab tafsir besar, seperti Ibnu Katsir dan juga Durul Manstur, hampir bisa dijelaskan bahwa penjelasan yang disampaikan oleh Maulana Ilyas tersebut tidak menyalahi, dan bahkan lebih memperlihatkan bentuk kongrit yang orisionalitas dari peran kaum muslimin itu sendiri. Tidak mungkin sebuah kaum ditampilkan sebagai penyebar, kecuali kaum itu sendiri yang menampilkan diri dan menyebarkan apa yang harus disebarkan. Sehingga komunikasi itu menjadi orisinal atau alami sebagai bentuk dari karakter manusia itu sendiri, dan itulah yang dibangun dalam usaha da’wah ini.

Dan proses ini tidak boleh berubah meskipun perkembangan zaman seperti apapun, seperti zaman kemajuan saat ini. Karena komunikasi langsung interaktif dan dinamis ditinggalkan diantara manusia itu sendiri, maka bencana akan datang kepada manusia itu sendiri, termasuk ke dalam lingkungan kaum muslimin. Dan saat ini sudah terjadi secara global, yaitu karakter egois, yang sebenarnya sangat bertentangan dengan Islam itu sendiri.

Dan tulisan ini bukan untuk saling berbantah-bantahan, tetapi untuk saling membangun kaum muslimin di masa depan. Sehingga jika terdapat kalimat yang lancang dan tidak hormat kepada kaum muslimin terutama terhadap para ulama dan penuntut ilmu, kami mohon maaf kepada semuanya. Dan kami menganjurkan kepada teman-teman salafi untuk membawakan tulisan kami ini kepada para ulama atau ustadz salafi.

Insya Allah, kami akan sampaikan kembali beberapa perkara untuk diketahui oleh kaum muslimin. Terimakasih atas perhatiannya, mudah-mudahan pandangan hal ini memberikan manfaat.

Wassalamu ‘alaikum wr. Wb.
Haitan Rachman
haitan_rachman@yahoo.com

2 Responses to "Perkara mimpi dalam usaha da’wah"

Ass….
Terima Kasih atas artikelnnya…sangat membantu saya…
Wass

Sdr. Luphly Pink,
Wa’alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh,

Terimakasih telah sudi datang ke tempat kami. Mudah-mudahan Allah swt memberikan rahmat untuk kita semua. Kita perlu banyak belajar lagi dan lagi, sampai kita semua tidak ada lagi. Kita masih jauh dibandingkan dengan para Shahabat, tetapi kita perlu mempunyai niat dengan sungguh-sungguh untuk mengikutinya dengan baik.

Terimakasih,

Leave a Reply