Posted by: Haitan Rachman on: December 11, 2007
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabakaratuh,
Kepada Kaum Muslimin Yang Berbahagia,
Kami bersyukur dapat berkenalan dengan usaha da’wah dan tabligh ini. Kami masih jauh dibandingkan pengorbanan teman-teman kami, bahkan guru-guru kami sendiri meskipun tidak berhubungan dengan usaha da’wah ini. Dan saat ini, teman-teman dari salafi wahabi berusaha memberikan pandangan kritis berhubungan dengan perkara “KHURUJ” ini, bahkan hal-hal yang kurang tepat. Dan kita semua dapat membacanya dengan mudah.
Kami sudah sampaikan beberapa sumber rujukan yang mana sumber ini cukup banyak dibaca oleh kaum muslimin, terutama para penuntut ilmu. Sumber Rujukan ini sengaja kami simpan di Blog lain (http://shahabat.wordpress.com), tidak dalam blog ini (http://usahadawah.wordpress.com). Karena Sumber itu kami harapkan menjadi sebuah sumber TEMATIK terhadap sumber-sumber Ulama dulu. Beberapa tahun yang silam, seorang guru kami sering menyentuh istilah TEMATIK ini dalam pengajarannya. Dan Blog (http://shahabat.wordpress.com) sebagai bentukan yang terinspirasi dengan ucapan guru tadi. Mudah-mudahan Allah swt memberikan banyak kebaikan kepada guru-guru kami. Amin.
Sebelum kami berkenalan dengan usaha da’wah dan tabligh ini, perkara KHURUJ ini. Kami telah berhubungan dengan Ustadz/Kyai yang banyak berkorban untuk agama ini. Dan kami merasakan sekali bagaimana KESUNGGUHAN beliau-beliau ini. Dan bahkan mungkin sangat sedikit dari kaum muslimin yang dapat menjalankannya. Dan setidaknya kami mendapatkan kisah-kisah atau pengalaman yang menarik dari beliau-beliau ini. Dan salah satu guru itu meminta kami sendiri untuk selalu belajar Islam, bahkan perbandingan madzhab juga. Dan hal ini sebelum kenal usaha da’wah. Mudah-mudahan Allah swt memberikan banyak kebaikan kepada guru-guru kami. Amin.
Ketika kami berkenalan dengan usaha da’wah dan tabligh ini, maka sedikit-demi-sedikit terbuka dan wacana terhadap SEMANGAT dan KESUNGGUHAN guru-guru kami ini. Dan jelas kami bertambah kagum dengan beliau-beliau ini. Meskipun beliau-beliau ini tidak berhubungan dengan usaha da’wah dan tabligh ini. Pengorbanan dan kesungguhan beliau-beliau ini tidak dapat ditiru oleh semua kaum muslimin.
Bisa kita bayangkan sendiri, bagaimana kita datang ke satu kampung yang kita sendiri tidak mengenal daerah itu? Apakah daerah kampung itu aman? Apakah masyarakat kampung itu sudah beragama Islam? Coba bayangkan kembali! Berapa hari harus tinggal di kampung itu? Dan tinggalnya harus dimana kalau tidak ada masjid? Dan masih banyak lagi perkara lainnya yang dapat ditanyakan kepada diri kita sendiri.
Dan kami akhirnya membuat satu KESIMPULAN, ternyata ada KHURUJ LAINnya yang tidak dapat dilakukan oleh semua kaum muslimin. Dan perkara ini hanya dapat dilakukan oleh kalangan khas kaum muslimin saja, bahkan tidak semua Ulama dan ustadz dapat melakukannya.
Sehingga ketika adanya KHURUJ yang dikenalkan oleh orang-orang da’wah dan tabligh, maka kami sendiri SANGAT SENANG, meskipun awalnya BERTANYA-TANYA. Karena KHURUJ yang satu ini dapat dilakukan oleh semua kaum muslimin, dan polanya diATUR agar dapat dijalankan secara TERTIB. Sedangkan KHURUJ LAINnya itu juga ada TERTIBnya, tetapi semua perkaranya menyatu dengan ILMU yang dimiliki orang yang menjalankannya ini.
Dan kalau berkeinginan mengikuti KHURUJ LAINnya ini kita sendiri harus khidmat selama orang pertama itu menjalankannya. Sehingga tidak heran kalau dulu, seorang Ulama dapat menghasilkan Ulama yang mempunyai pengorbanan yang sama dengan gurunya lagi, dan bahkan mungkin lebih. Buku yang ditulis oleh Imam Al-Ghozali, “O Anak”, merupakan tulisan yang sangat fundamental jika kita ingin mengetahuinya. Sehingga RUHANI, SEMANGAT, BIMBINGAN dan KESUNGGUHANnya sampai kepada muridnya.
Kami berpesan kepada kaum muslimin, jika membaca tulisan para Ulama, jangan cepat-cepat ingin memahaminya. Tetapi banyak-banyaklah untuk direnungi dan ditadaburi. Sehingga akhirnya kita sendiri mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh. Sebagai gambaran SISTEM dari ELEMEN-ELEMEN yang menyatu.
Kami menulis ini karena seorang salafi memberikan komentar pada satu tulisan kami, dan menanyakan perihal yang berhubungan usaha da’wah dan tabligh KEMBALI setelah kami tunjukan rujukannya yang kami tujukan dalam http://shahabat.wordpress.com/2007/09/13/sumber-tafsir-qs-ali-imran-3-104/ dan http://shahabat.wordpress.com/2007/09/19/ummat-terbaik-tampil-sebagai-ummat-dawah/. Jadi kami anjurkan untuk dibaca lebih teliti dan seksama, dan tidak perlu tergesa-gesa untuk memahaminya.
Terimakasih,
Assallamualaikum, disini ada sedikit tentang riwayat Maulana Ilyas rah, agar dapat dahulu kita renungi, bagaimanakah sebenarnya kehidupan Maulana Ilyas dan juga perjuangannya.
Maulana Muhammad Ilyas Al-Kandahlawy dilahirkan pada tahun 1303 H. (1886) di desa Kandahlah di kawasan Muzhafar Nagar, Utar Prades, India. Ayahandanya bernama Syaikh Ismail manakala ibundaya bernama Shafiyah Al-Hafidzah. Keluarga Maulana Muhammad Ilyas terkenal sebagai gudang ilmu agama dan memiliki sifat wara’. Syaikh Ismail mempunyai tiga orang anak iaitu Maulana Muhammad, Maulana Muhammad Yahya dan Maulana Muhammad Ilyas.
Maulana Muhammad Ilyas pertama kali belajar agama pada abangnya Syaikh Muhammad Yahya, beliau adalah seorang guru agama pada madrasah di kota kelahirannya. Syaikh Maulana Yahya adalah juga teman kepada seorang ulama dan penulis Islam terkenal, Syaikh Abul Hasan Al-Hasani An-Nadwi yang merupakan seorang direktur pada lembaga Dar Al-‘Ulum di Lucknow, India.
Manakala ayahanda beliau sendiri, Syaikh Muhammad Ismail adalah seorang ulamak besar yang suka menjalani hidup dengan ber’uzhlah, berkhalwat dan beribadah, membaca Al-Qur’an dan melayani para musafir yang datang dan pergi serta mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama. Ayahandanya selalu mengamalkan do’a ma’tsur dari hadits untuk waktu dan keadaan yang berlainan. Perangainya menyukai kedamaian dan keselamatan serta bergaul dengan manusia dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, membuat dirinya dikasihi dan dihormati. Bahkan beliau menjadi tumpuan kepercayaan para ulama sehingga mampu membimbing berbagai tingkat kaum muslimin yang terhalang oleh perselisihan di antara mereka. Adapun ibunda beliau Shafiyah Al-Hafidzah adalah seorang Hafidzah Al-Qur’an. Isteri kedua dari Syaikh Muhammad Ismail ini selalu mengkhatamkan Al-Qur’an, dan dalam menguruskan tugas harian dirumah pun, mulutnya senantiasa bergerak membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang dihafalinya.
Maulana Muhammad Ilyas sendiri mulai mengenal pendidikan pada sekolah Ibtidaiyah (dasar). Sejak saat itulah beliau mulai menghafal Al-Qur’an, hal ini di sebabkan pula oleh kebiasaan yang ada dalam keluarga Syaikh Muhammad Ismail yang kebanyakan dari mereka adalah terdiri dari para hafidzh Al-Qur’an. Sehinggakan dalam sholat berjama’ah mereka, separuh saf bahagian depan semuanya adalah terdiri dari kalangan para hafidzh. Dan dari sesejak kecil telah nampak ruh dan semangat agama dalam dirinya, disamping beliau memiliki kerisauan terhadap umat, agama dan dakwah. Sehingga ‘Allamah Asy-Syaikh Mahmud Hasan yang dikenal sebagai Syaikhul Hind (guru besar ilmu hadits pada madrasah Darul ‘Ulum Deoband) mengatakan, “sesungguhnya apabila aku melihat Maulana Ilyas aku teringat akan kisah perjuangan para sahabat”.
Pada suatu ketika abangnya, Maulana Muhammad Yahya pergi belajar kepada seorang ‘alim besar dan pembaharu yang ternama yakni Syaikh Rasyid Ahmad Al-Gangohi, di desa Gangoh, kawasan Saranpur, Utar Pradesh, India. Hal ini pula yang membuat Maulana Muhammad Ilyas tertarik untuk belajar pada Syaikh Rasyid sebagaimana abangnya. Akhirnya Maulana Ilyas memutuskan untuk belajar agama menyertai abangnya di Gangoh. Akan tetapi selama tinggal dan belajar di sana Maulana Ilyas selalu menderita sakit. Sakit ini ditanggungnya selama bertahun-tahun lamanya, tabib Ustadz Mahmud Ahmad putra dari Syaikh Gangohi sendiri telah memberikan pengobatan dan perawatan pada beliau.
Sakit yang dideritanya menyebabkan kegiatan belajarnyapun menurun, akan tetapi beliau tidak pernah berputus asa. Banyak yang menyarankan agar beliau berhenti belajar untuk sementara waktu, beliau menjawab, ”apa gunanya aku hidup jika dalam kejahilan”. Dengan izin Allah SWT, Maulana dapat menghabiskan pelajaran Hadits Syarif, Jami’at Tirmidzi dan Shahih Bukhari, dan dalam jangka waktu empat bulan beliau sudah menyelesaikan Kutubus Sittah. Tubuhnya yang kurus dan sering terserang sakit semakin membuat beliau bersemangat dalam menuntut ilmu, begitu pula kerisauannya yang bertambah besar terhadap keadaan umat yang jauh dari Syari’at Islam. Ketika Syaikh Gangohi wafat pada tahun 1323 H, beliau baru berumur dua puluh lima tahun dan merasa sangat kehilangan guru yang paling dihormati. Hal ini membuatnya semakin taat beribadah pada Allah. Beliau menjadi pendiam dan hanya mengerjakan ibadah, dzikir, dan banyak mengerjakan amalan-amalan infiradi.
Maulana Muhammad Zakariya pernah menceritakan: “Pada waktu aku mengaji sebuah kitab dari beliau, aku datang kepadanya dengan kitab pelajaranku dan aku menunjukkan tempat pelajaran dengan jari kepadanya. Tetapi apabila aku salah dalam membaca, maka beliau akan memberi isyarat kepadaku dengan jarinya agar menutup kitab dan menghentikan pelajaran. Hal itu beliau maksudkan agar aku mempelajari kembali kitab tersebut, kemudian datang lagi pada hari berikutnya.”
Maulana Ilyas akhirnya berkenalan dengan Syaikh Khalid Ahmad As-Sharanpuri penulis kitab Bajhul Majhud Fi Hilli Alfazhi Abi Dawud dan berguru kepadanya. Semakin bertambah ilmu yang dimiliki membuat beliau semakin tawaddu’. Ketawaddu’an beliau di usia mudanya menyebabkan beliau dihormati di kalangan para Ulama dan Masyaikh. Syaikh Yahya, abang beliau sendiri tidak pernah memperlakukan beliau sebagai anak kecil, bahkan Syaikh Yahya sangat menghormati beliau.
Pada suatu ketika di Kandhla ada sebuah pertemuan yang dihadiri oleh ulama-ulama besar, di antaranya terdapat nama Syaikh Abdurrahman Ar-Raipuri, Syaikh Khalil Ahmad As-Sharanpuri, dan Syaikh Asyraf Ali At-Tanwi. Waktu itu tiba waktu sholat Ashar, mereka meminta Maulana Ilyas untuk mengimami sholat tersebut. Ustadz Badrul Hasan salah seorang di antara keluarga besar tersebut berkata, “alangkah panjang dan beratnya kereta api ini, namun alangkah ringan lokomotifnya”, kemudian salah seorang diantara hadirin menjawab,” tetapi lokomotif yang kuat itu justru karena ringannya”.
Akibat kematian abangnya, Maulana Muhammad Yahya, pada 9 Agustus 1925, beliau mengalami goncangan batin yang cukup berat. Dua tahun setelah itu, menyusul abangnya yang tertua, Maulana Muhammad. Beliau meninggal di Masjid Nawab Wali, Qassab Pura dan dimakamkan di Nizamuddin. Kematian Maulana Muhammad ini mendapat perhatian dari masyarakat sekitarnya. Beribu orang menziarahi jenazahnya. Setelah dimakamkan orang ramai meminta kepada Maulana Ilyas untuk menggantikan abangnya di Nizamuddin padahal pada waktu itu beliau sedang menjadi salah seorang pengajar di Madrasah Mazhahirul ‘Ulum. Masyarakat bahkan menjanjikan dana bulanan kepada madrasah dengan syarat agar dapat diamalkan seumur hidupnya. Pada akhirnya, setelah mendapat izin dari Maulana Khalil Ahmad dengan pertimbangan jika tinggalnya di Nizamuddin membawa manfaat maka Maulana Ilyas akan diberi kesempatan untuk berhenti mengajar. Beliau pun akhirnya pergi ke Nizamuddin, ke madarasah warisan ayahnya yang kosong akibat lama tidak dihuni. Dengan semangat mengajar yang tinggi beliaupun akhirnya membuka kembali madrasah tersebut.
Karena semangat yang tinggi untuk memajukan agama, beliaupun mendirikan Maktab di Mewat, tetapi kerana keadaan kehidupan tempatan yang kurang berada disitu, menyebabkan masyarakatnya lebih menyukai anak-anak mereka pergi kekebun atau kesawah daripada ke Madrasah atau Maktab untuk belajar agama, membaca atau menulis. Dengan demikian Maulana Ilyas dengan terpaksa meminta orang Mewat untuk menghantarkan anak-anak mereka untuk belajar dengan pembiayaan yang ditanggung oleh Maulana sendiri. Besarnya pengorbanan Maulana hanya untuk memajukan pendidikan agama bagi masyarakat Mewat tidak mendapatkan perhatian.
Beliau melihat bahwa kejahilan, kegelapan dan sekularisme yang melanda negerinya sangat berpengaruh terhadap madrasah-madrasah. Para murid tidak mampu menjunjung nilai-nilai agama sebagaimana mestinya, sehingga gelombang kejahilan semakin melanda bagaikan gelombang lautan yang melaju deras sampai ratusan batu membawa mereka hanyut. Kebanyakkan masyarakat masih belum memiliki semangat agama dan mereka tidak begitu berminat untuk mengirimkan anak-anak mereka untuk belajar ilmu di Madrasah. Hal ini disebabkan mereka tidak memahami nilainya ilmu agama, serta tidak menaruh harapan kepada lulusan Madrasah. Mereka juga tidak menghormati para lulusan Madrasah yang telah memberikan penerangan dan dakwah. Mereka tidak mahu mendengar apalagi mengikutinya. Kesimpulannya bahawa Madrasah-madrasah yang ada itu tidak mampu mengubah warna dan gaya hidup masyarakat.
Melihat keadaan Mewat yang sangat jahil itu semakin menambah kerisauan beliau akan keadaan umat Islam terutama masyarakat Mewat. Kunjungan-kunjungan diadakan bahkan madrasah-madrasah banyak didirikan, tetapi hal itu belum dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi masyarakat Mewat. Dengan izin Allah timbullah keinginannya untuk mengirimkan jama’ah dakwah ke Mewat. Pada tahun 1351 H/1931 M, beliau menunaikan haji yang ketiga ke tanah suci Makkah. Kesempatan tersebut dipergunakannya untuk menemui tokoh-tokoh India yang ada diTanah Arab guna mengenalkan usaha dakwah dan dengan harapan agar usaha ini dapat terus dijalankan diTanah Arab. Keinginannya yang besar menyebabkan beliau berkesempatan menemui Sultan Ibnu Sa’ud yang menjadi raja Tanah Arab untuk mengenalkan usaha mulia yang dibawanya. Selama di tanah Makkah, Jama’ah bergerak setiap hari sejak pagi sampai petang, usaha dakwah dilakukan berterusan untuk mengajak orang taat kepada perintah Allah dan menegakkan dakwah.
Setelah pulang dari haji tersebut, Maulana mengadakan dua kunjungan ke Mewat, masing-masing disertai Jama’ah dengan jumlah yang cukup besar, paling sedikit seratus orang. Bahkan di beberapa tempat jumlahnya semakin membesar. Kunjungan pertama dilakukan selama satu bulan dan kunjungan kedua dilakukan hanya beberapa hari saja. Dalam kunjungan tersebut beliau selalu membentuk jama’ah-jama’ah yang dikirim ke kampung-kampung untuk berjaulah (berkeliling dari rumah ke rumah) guna menyampaikan pentingnya agama. Beliau sepenuhnya yakin bahwa kejahilan, kelalaian serta hilangnya semangat agama dan jiwa keIslaman, itulah yang menjadi sumber kerusakan. Adapun satu-satu jalan, adalah mengjak orang-orang Mewat agar keluar dari kampung halamannya untuk memperbaiki diri dan belajar agama, serta melatih kebiasaan-kebiasaan yang baik sehingga tumbuh kesedarannya untuk mencintai agama lebih daripada dunia dan mementingkan amal dari mal (harta).
Dari Mewat inilah secara berangsur-angsur usaha tabligh meluas ke Delhi, United Province, Punjab, Khurja, Aligarh, Agra, Bulandshar, Meerut, Panipat, Sonepat, Karnal, Rohtak dan daerah lainnya. Begitu juga dibandar-bandar pelabuhan banyak jama’ah yang tinggal dan terus bergerak menuju tempat-tempat yang ditargetkan seperti halnya daerah Asia Barat. Terbentuknya jama’ah ini adalah dengan izin Allah melalui kerisauan seorang Maulana Muhammad Ilyas, menyebarlah jama’ah-jama’ah yang membawa misi ganda yaitu ishlah diri (perbaikan diri sendiri) dan mendakwahkan kebesaran Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Perkembangan jama’ah ini semakin hari semakin tampak. Banyak jama’ah yang dikirim, dan dari tempat-tempat yang dikunjungi jama’ah pun ada yang kemudian membentuk rombongan jama’ah baru sehingga silaturrahim antara kaum muslimin dengan muslim yang lain dapat terwujud. Gerakan jama’ah tidak hanya tersebar di India tetapi sedikit demi sedikit telah tersebar dibeberapa negara. Semuanya hanyalah dibawah kekuasaan Allah semata-mata yang dapat memakmurkan dan membesarkan usaha ini.
Kerisauan akan keadaan umat semakin bertambah, jama’ah-jama’ah banyak dibentuk dan dikirim ke pelosok jazirah. Sehingga dengan izin Allah usaha ini pun semakin meluas. Maulana Muhammad Ilyas tanpa henti terus memberi dorongan dan arahan ilmu dan pemikirannya untuk menjalankan usaha dakwah ini agar sampai ke seluruh alam. Dalam keadaan umur yang tua, Maulana terus bersemangat hingga tubuhnya yang kurus tidak mampu lagi untuk digerakkan ketika beliau menderita sakit. Pada hari terakhir dalam sejarah hidupnya Maulana mengirim utusan kepada Syaikhul Hadits Maulana Zakariya, Maulana Abdul Qodir Raipuri, dan Maulana Zafar Ahmad, bahawa beliau akan mengamanahkan kepercayaan sebagai amir jama’ah kepada sahabat-sahabatnya seperti Hafidz Maqbul Hasan, Qozi Dawud, Mulvi Ihtisamul Hasan, Mulvi Muhammad Yusuf, Mulvi Inamul Hasan, Mulvi Sayyid Raza Hasan. Pada saat itu terpilihlah Mulvi Muhammad Yusuf (penulis Kitab hayatuh Sahaba) sebagai pengganti Maulana Muhammad Ilyas dalam memimpin usaha dakwah dan tabligh.
Pada sekitar bulan Juli 1944 beliau uzurnya semakin parah, beliau hanya berbaring di tempat tidur dengan ditemani para pembantu dan muridnya. Keadaan tubuhnya yang telah lemah merupakan bukti nyata bahwa beliau bersungguh-sungguh menghabiskan waktu berdakwah Khuruj Fi Sabilillah mengembara dari satu tempat ke tempat lain bersama dengan Jama’ah untuk mendakwahkan kebesaran Allah dan kalimat Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah.
Pada tanggal 13 Juli 1944, Maulana telah siap untuk menempuh perjalanannya yang terakhir. Beliau bertanya kepada salah seorang yang hadir, “apakah besok hari Kamis?”, yang di sekelilingnya menjawab,”benar”, kemudian beliau berkata lagi, “periksalah pakaianku, apakah ada najisnya atau tidak”, yang disekelilingnya berkata bahwa pakaian yang dikenakannya masih dalam keadaan suci. Kemudian dengan dibantu, beliau berwudlu dan mengerjakan sholat Isya’ dengan berjama’ah. Beliau berpesan kepada orang-orang agar memperbanyak dzikir dan do’a pada malam tersebut. Beliau juga berkata,”yang ada di sekelilingku ini pada hari ini hendaklah menjadi orang-orang yang dapat membezakan antara perbuatan syaitan dengan perbuatan malaikat Allah”.
Ustadz abuwarda,
Kami ucapkan banyak terimakasih dengan kisah ini. Dan salah satu nasehat beliau yang banyak memberikan kesan mendalam pada kami pribadi yang dhoif ini adalah beliau sangat menekankan agar kita semua banyak menceritakan kisah-kisah Nabi kita, nabi Muhammad SAW, dan juga para Shahabat RA. Semoga Sholawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, dan juga kepada para Shahabatnya
Salam ma´al hijrah 1429…
Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Orang yang berhijrah itu ialah orang yang meninggalkan apa-apa dilarang Allah ke atasnya.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)
Sdr. akhi-z,
Terimakasih atas pesannya. Mudah-mudahan kita semua dapat mengamalkan pesan Nabi itu dengan baik dalam kehidupan kita.
Assalamualaikum.kpd sahabat2 siapa saja yg ingin mengetahui secara jelas ttg siapa sebenarnya Jama’ah Tabligh?terutama aqidah,manhaj,fiqhnya,serta buku2 rujukan utama mrk saat berdakwah\saat menyampaikam tablighnya,ditambah fatwa2 uluma2 ahlussunnah ttg jama’ah tabligh, bs tulis email ke: ahlus-sunnah@ plasa.com.
Sdr. Aditya,
Wa’alaikumus salam wr. wb.
Terimakasih sdr. sudah berkunjung ke tempat kami. Pertama, kami perlu jelaskan bahwa Ahlu Sunnah Wal Jama’ah bukan milik satu kaum, tetapi milik semua kaum muslimin yang memegang Sunnah Rasullullah SAW dan para Shahabat RA. Sangat tidak tepat, kalau istilah ini hanya milik satu kaum atau kelompok tertentu.
Kedua, kepahaman Al-Islam ini tidak hanya berdasarkan pada sekelompok Ulama tertentu saja. Para Ulama ini telah tersebar dan tumbuh di kalangan kaum muslimin dari abad-ke-abad. Semua ulama juga bersumber pada sumber-sumber yang sama, hanya saja para Ulama mempunyai kerangka masing-masing berbeda terhadap hal itu.
Jika sekarang ini sebagian ulama salafi banyak memberikan pandangan-pandangannya, bukan berarti MUTLAK benarnya. Bukankah salafi sendiri yang sering menjelaskan bahwa Rasulullah SAW yang ma’shum, sedangkan yang lainnya tidak lepas dari kekurangan dan kekeliruan?. Oleh karena itu, kami berikan pandangan berimbang, agar kaum muslimin juga dapat memahami juga dengan hal itu.
Salam knl,blh ana bergabung!
Sdr. Tya,
Terimakasih sudah datang ke tempat kami. Salam kenal juga dari kami. Silahkan bergabung.
Assalamualaikum akhuna aditya, rasanya jurang untuk dirapatkan semakin jauh. Baguslah begitu, kerana kekadang bermasaalah untuk pihak lain jika disabitkan bersekutu dengan pihak sdr seperti kes pembinaan masjid terbesar diNewham, England dilaksanakan oleh Jemaah Tabligh mendapat tentangan pihak tempatan kerana dituduh mendapat bantuan dari pihak salafi-Wahabi, sedangkan tidak.
Sebgm dalam wikipedia menulis bahawa tahun 1973, Markaz tabligh diDewsbury dibuka dengan bantuan Salafi-wahabi, sedangkan markaz tersebut dibuka pada tahun 1982 dengan kewangan sendiri dari kaum muslimin.
Sdr Aditya, takutilah fitnah terutama keatas kaum muslimin.
Jemaah Tabligh sudah lumrah ditekan dimana-mana (dan ini adalah sebahagian dari tarbiah) seperti pihak Sufi Barelwi yang menuduh Jemaah Tabligh adalah Salafi, manakala salafi menuduh Jemaah Tabligh adalah Sufi, sedangkan usaha Tabligh adalah usaha sederhana merangkumi setiap aspek sebagaimana aliran Ahlul Sunnah wal Jamaah.
Sambungan dari tulisan ini di pindahkan ke : http://haditsrasul.wordpress.com/2008/02/04/beberapa-petikan-shyakh-al-saqqaf-terhadap-analisa-shyakh-al-bani/
Assalamu alaykum,
Saya terkesan dengan usha da’wah ini dan walaupun cuma 3 hari saya pernah khuruj. dan sebagai masukan dari dalam saya kira perlu ditingkatkan pembinaan terhadap para karkun sendiri terutama tentang usaha da’wah ini, untuk para saudara kita yang mengaku salafi tak usah lah kita risaukan, jika memang Allah berkehendak tentu Allah akan memberikan hidayahnya kepada mereka. Semoga tulisan-tulisan mereka dan juga fatwa-fatwa ulama mereka tentang Jemaah Tabligh menjadi nilai tambah bagi usaha dakwah ini dan semoga menjadi sebab bagi kaum muslimin yang lain untuk mempelaj Usaha dakwah ini. Amin
Sdr. Eko,
Wa’alaikumus salam
Terimakasih atas pesannya. Dan jangan lupa kita sama-sama untuk saling mengingatkan siapa saja.
Kisah pendeta senior di Afrika Selatan Yang Masuk Islam bermimpi bertemu Rasulullah SAW
“Ya Tuhanku… Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku… sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu… Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran… manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku… jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan… tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar…
Mungkin kisah ini terasa sangat aneh bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan orangnya atau langsung melihat dan mendengar penuturannya. Kisah yang mungkin hanya terjadi dalam cerita fiktif, namun menjadi kenyataan. Hal itu tergambar dengan kata-kata yang diucapkan oleh si pemilik kisah yang sedang duduk di hadapanku mengisahkan tentang dirinya. Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut dan mengetahui kejadian-kejadian yang menarik secara komplit, biarkan aku menemanimu untuk bersama-sama menatap ke arah Johannesburg, kota bintang emas nan kaya di negara Afrika Selatan di mana aku pernah bertugas sebagai pimpinan cabang kantor Rabithah al-’Alam al-Islami di sana.
Pada tahun 1996, di sebuah negara yang sedang mengalami musim dingin, di siang hari yang mendung, diiringi hembusan angin dingin yang menusuk tulang, aku menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku. Istriku sudah mempersiapkan santapan siang untuk menjamu sang tamu yang terhormat. Orang yang aku tunggu dulunya adalah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Ia seorang misionaris penyebar dan pendakwah agama Nasrani. Ia seorang pendeta, namanya ‘Sily.’ Aku dapat bertemu dengannya melalui perantaraan sekretaris kantor Rabithah yang bernama Abdul Khaliq Matir, di mana ia mengabarkan kepada-ku bahwa seorang pendeta ingin datang ke kantor Rabithah hendak membicarakan perkara penting.
Tepat pada waktu yang telah dijanjikan, pendeta tersebut datang bersama temannya yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah salah seorang anggota sebuah sasana tinju setelah ia memeluk Islam, selepas bertanding dengan seorang petinju muslim terkenal, Muhammad Ali. Aku menyambut keda-tangan mereka di kantorku dengan perasaan yang sangat gembira. Sily seorang yang berpostur tubuh pendek, berkulit sangat hitam dan mudah tersenyum. Ia duduk di depanku dan berbicara denganku dengan lemah lembut. Aku katakan, “Saudara Sily bolehkah kami mendengar kisah keislamanmu?” ia tersenyum dan berkata, “Ya, tentu saja boleh.”
Pembaca yang mulia, dengar dan perhatikan apa yang telah ia ceritakan kepadaku, kemudian setelah itu, silahkan beri penilaian.!
Sily berkata, “Dulu aku seorang pendeta yang sangat militan. Aku berkhidmat untuk gereja dengan segala kesungguhan. Tidak hanya sampai di situ, aku juga salah seorang aktifis kristenisasi senior di Afrika Selatan. Karena aktifitasku yang besar maka Vatikan memilihku untuk menjalankan program kristenisasi yang mereka subsidi. Aku mengambil dana Vatikan yang sampai kepadaku untuk menjalankan program tersebut. Aku mempergunakan segala cara untuk mencapai targetku. Aku melakukan berbagai kunjungan rutin ke madrasah-madrasah, sekolah-sekolah yang terletak di kampung dan di daerah pedalaman. Aku memberikan dana tersebut dalam bentuk sumbangan, pemberian, sedekah dan hadiah agar dapat mencapai targetku yaitu memasukkan masyarakat ke dalam agama Kristen. Gereja melimpahkan dana tersebut kepadaku sehingga aku menjadi seorang hartawan, mempunyai rumah mewah, mobil dan gaji yang tinggi. Posisiku melejit di antara pendeta-pendeta lainnya.
Pada suatu hari, aku pergi ke pusat pasar di kotaku untuk membeli beberapa hadiah. Di tempat itulah bermula sebuah perubahan!
Di pasar itu aku bertemu dengan seseorang yang memakai kopiah. Ia pedagang berbagai hadiah. Waktu itu aku mengenakan pakaian jubah pendeta berwarna putih yang merupakan ciri khas kami. Aku mulai menawar harga yang disebutkan si penjual. Dari sini aku mengetahui bahwa ia seorang muslim. Kami menyebutkan agama Islam yang ada di Afrika selatan dengan sebutan ‘agama orang Arab.’ Kami tidak menyebutnya dengan sebutan Islam. Aku pun membeli berbagai hadiah yang aku inginkan. Sulit bagi kami menjerat orang-orang yang lurus dan mereka yang konsiten dengan agamanya, sebagaimana yang telah berhasil kami tipu dan kami kristenkan dari kalangan orang-orang Islam yang miskin di Afrika Selatan.
Si penjual muslim itu bertanya kepadaku, “Bukankah anda seorang pendeta?” Aku jawab, “Benar.” Lantas ia bertanya kepadaku, “Siapa Tuhanmu?” Aku katakan, “Al-Masih.” Ia kembali berkata, “Aku menantangmu, coba datangkan satu ayat di dalam Injil yang menyebutkan bahwa al-Masih AS berkata, ‘Aku adalah Allah atau aku anak Allah. Maka sembahlah aku’.” Ucapan muslim tersebut bagaikan petir yang menyambar kepalaku. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Aku berusaha membuka-buka kembali catatanku dan mencarinya di dalam kitab-kitab Injil dan kitab Kristen lainnya untuk menemukan jawaban yang jelas terhadap pertanyaan lelaki tersebut. Namun aku tidak menemukannya. Tidak ada satu ayat pun yang men-ceritakan bahwa al-Masih berkata bahwa ia adalah Allah atau anak Allah. Lelaki itu telah menjatuhkan mentalku dan menyulitkanku. Aku ditimpa sebuah bencana yang membuat dadaku sempit. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti ini tidak pernah terlintas olehku? Lalu aku tinggalkan lelaki itu sambil menundukkan wajah. Ketika itu aku sadar bahwa aku telah berjalan jauh tanpa arah. Aku terus berusaha mencari ayat-ayat seperti ini, walau bagaimanapun rumitnya. Namun aku tetap tidak mampu, aku telah kalah.
Aku pergi ke Dewan Gereja dan meminta kepada para anggota dewan agar berkumpul. Mereka menyepakatinya. Pada pertemuan tersebut aku mengabarkan kepada mereka tentang apa yang telah aku dengar. Tetapi mereka malah menyerangku dengan ucapan, “Kamu telah ditipu orang Arab. Ia hanya ingin meyesatkanmu dan memasukkan kamu ke dalam agama orang Arab.” Aku katakan, “Kalau begitu, coba beri jawabannya!” Mereka membantah pertanyaan seperti itu namun tak seorang pun yang mampu memberikan jawaban.
Pada hari minggu, aku harus memberikan pidato dan pelajaranku di gereja. Aku berdiri di depan orang banyak untuk memberikan wejangan. Namun aku tidak sanggup melakukannya. Sementara para hadirin merasa aneh, karena aku berdiri di hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku kembali masuk ke dalam gereja dan meminta kepada temanku agar ia menggantikan tempatku. Aku katakan bahwa aku sedang sakit. Padahal jiwaku hancur luluh.
Aku pulang ke rumah dalam keadaan bingung dan cemas. Lalu aku masuk dan duduk di sebuah ruangan kecil. Sambil menangis aku menengadahkan pandanganku ke langit seraya berdoa. Namun kepada siapa aku berdoa. Kemudian aku berdoa kepada Dzat yang aku yakini bahwa Dia adalah Allah Sang Maha Pencipta, “Ya Tuhanku… Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku… sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu… Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran… manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku… jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan… tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar…” lantas akupun tertidur.
Di dalam tidur, aku melihat diriku sedang berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali diriku. Tiba-tiba di tengah ruangan tersebut muncul seorang lelaki. Wajah orang itu tidak begitu jelas karena kilauan cahaya yang terpancar darinya dan dari sekelilingnya. Namun aku yakin bahwa cahaya tersebut muncul dari orang tersebut. Lelaki itu memberi isyarat kepadaku dan memanggil, “Wahai Ibrahim!” Aku menoleh ingin mengetahui siapa Ibrahim, namun aku tidak menjumpai siapa pun di ruangan itu. Lelaki itu berkata, “Kamu Ibrahim… kamulah yang bernama Ibrahim. Bukankah engkau yang memohon petunjuk kepada Allah?” Aku jawab, “Benar.” Ia berkata, “Lihat ke sebelah kananmu!” Maka akupun menoleh ke kanan dan ternyata di sana ada sekelompok orang yang sedang memanggul barang-barang mereka dengan mengenakan pakaian putih dan bersorban putih. Ikutilah mereka agar engkau mengetahui kebenaran!” Lanjut lelaki itu.
Kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku merasakan sebuah kegembiraan menyelimutiku. Namun aku belum juga memperoleh ketenangan ketika muncul pertanyaan, di mana gerangan kelompok yang aku lihat di dalam mimipiku itu berada.
Aku bertekad untuk melanjutkannya dengan berkelana mencari sebuah kebenaran, sebagaimana ciri-ciri yang telah diisyaratkan dalam mimpiku. Aku yakin ini semua merupakan petunjuk dari Allah SWT. Kemudian aku minta cuti kerja dan mulai melakukan perjalanan panjang yang memaksaku untuk berkeliling di beberapa kota mencari dan bertanya di mana orang-orang yang memakai pakaian dan sorban putih berada. Telah panjang perjalanan dan pencarianku. Setiap aku menjumpai kaum muslimin, mereka hanya memakai celana panjang dan kopiah. Hingga akhirnya aku sampai di kota Johannesburg.
Di sana aku mendatangi kantor penerima tamu milik Lembaga Muslim Afrika. Di rumah itu aku bertanya kepada pegawai penerima tamu tentang jamaah tersebut. Namun ia mengira bahwa aku seorang peminta-minta dan memberikan sejumlah uang. Aku katakan, “Bukan ini yang aku minta. Bukankah kalian mempunyai tempat ibadah yang dekat dari sini? Tolong tunjukkan masjid yang terdekat.” Lalu aku mengikuti arahannya dan aku terkejut ketika melihat seorang lelaki berpakaian dan bersorban putih sedang berdiri di depan pintu.
Aku sangat girang, karena ciri-cirinya sama seperti yang aku lihat dalam mimpi. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku mendekati orang tersebut. Sebelum aku mengatakan sepatah kata, ia terlebih dahulu berkata, “Selamat datang ya Ibrahim!” Aku terperanjat mendengarnya. Ia mengetahui namaku sebelum aku memperkenalkannya. Lantas ia melanjutkan ucapan-nya, “Aku melihatmu di dalam mimpi bahwa engkau sedang mencari-cari kami. Engkau hendak mencari kebenaran? Kebenaran ada pada agama yang diridhai Allah SWT untuk hamba-Nya yaitu Islam.” Aku katakan, “Benar. Aku sedang mencari kebenaran yang telah ditunjukkan oleh lelaki bercahaya dalam mimpiku, agar aku mengikuti sekelompok orang yang berpakaian seperti busana yang engkau kenakan. Tahukah kamu siapa lelaki yang aku lihat dalam mimpiku itu?” Ia menjawab, “Dia adalah Nabi kami Muhammad, Nabi agama Islam yang benar, Rasulullah SAW.” Sulit bagiku untuk mempercayai apa yang terjadi pada diriku. Namun langsung saja aku peluk dia dan aku katakan kepadanya, “Benarkah lelaki itu Rasul dan Nabi kalian yang datang menunjukiku agama yang benar?” Ia berkata, “Benar.”
Ia lalu menyambut kedatanganku dan memberikan ucapan selamat karena Allah SWT telah memberiku hidayah kebenaran. Kemudian datang waktu shalat zhuhur. Ia mempersilahkanku duduk di tempat paling belakang dalam masjid dan ia pergi untuk melaksanakan shalat bersama jamaah yang lain. Aku memperhatikan kaum muslimin banyak memakai pakaian seperti yang dipakainya. Aku melihat mereka rukuk dan sujud kepada Allah. Aku berkata dalam hati, “Demi Allah, inilah agama yang benar. Aku telah membaca dalam berbagai kitab bahwa para nabi dan rasul meletakkan dahinya di atas tanah sujud kepada Allah.” Setelah mereka shalat, jiwaku mulai merasa tenang dengan fenomena yang aku lihat. Aku berucap dalam hati, “Demi Allah sesungguhnya Allah SWT telah menunjukkan kepadaku agama yang benar.” Seorang muslim memanggilku agar aku mengumumkan keislamanku. Lalu aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku menangis sejadi-jadinya karena gembira telah mendapat hidayah dari Allah SWT.
Kemudian aku tinggal bersamanya untuk mempelajari Islam dan aku pergi bersama mereka untuk melakukan safari dakwah dalam waktu beberapa lama. Mereka mengunjungi semua tempat, mengajak manusia kepada agama Islam. Aku sangat gembira ikut bersama mereka. Aku dapat belajar shalat, puasa, tahajjud, doa, kejujuran dan amanah dari mereka. Aku juga belajar dari mereka bahwa seorang muslim diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah dan bagaimana menjadi seorang muslim yang mengajak kepada jalan Allah serta berdakwah dengan hikmah, sabar, tenang, rela berkorban dan berwajah ceria.
Setelah beberapa bulan kemudian, aku kembali ke kotaku. Ternyata keluarga dan teman-temanku sedang mencari-cariku. Namun ketika melihat aku kembali memakai pakaian Islami, mereka mengingkarinya dan Dewan Gereja meminta kepadaku agar diadakan sidang darurat. Pada pertemuan itu mereka mencelaku karena aku telah meninggalkan agama keluarga dan nenek moyang kami. Mereka berkata kepadaku, “Sungguh kamu telah tersesat dan tertipu dengan agama orang Arab.” Aku katakan, “Tidak ada seorang pun yang telah menipu dan menyesatkanku. Sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW datang kepadaku dalam mimpi untuk menunjukkan kebenaran dan agama yang benar yaitu agama Islam. Bukan agama orang Arab sebagaimana yang kalian katakan. Aku mengajak kalian kepada jalan yang benar dan memeluk Islam.” Mereka semua terdiam.
Kemudian mereka mencoba cara lain, yaitu membujukku dengan memberikan harta, kekuasaan dan pangkat. Mereka berkata, “Sesungguhnya Vatikan me-mintamu untuk tinggal bersama mereka selama enam bulan untuk menyerahkan uang panjar pembelian rumah dan mobil baru untukmu serta memberimu kenaikan gaji dan pangkat tertinggi di gereja.”
Semua tawaran tersebut aku tolak dan aku katakan kepada mereka, “Apakah kalian akan menyesatkanku setelah Allah memberiku hidayah? Demi Allah aku takkan pernah melakukannya walaupun kalian memenggal leherku.” Kemudian aku menasehati mereka dan kembali mengajak mereka ke agama Islam. Maka masuk Islamlah dua orang dari kalangan pendeta.
Alhamdulillah, Setelah melihat tekadku tersebut, mereka menarik semua derajat dan pangkatku. Aku merasa senang dengan itu semua, bahkan tadinya aku ingin agar penarikan itu segera dilakukan. Kemudian aku mengembalikan semua harta dan tugasku kepada mereka dan akupun pergi meninggalkan mereka,” Sily mengakhiri kisahnya.
Kisah masuk Islam Ibrahim Sily yang ia ceritakan sendiri kepadaku di kantorku, disaksikan oleh Abdul Khaliq sekretaris kantor Rabithah Afrika dan dua orang lainnya. Pendeta sily sekarang dipanggil dengan Da’i Ibrahim Sily berasal dari kabilah Kuza Afrika Selatan. Aku mengundang pendeta Ibrahim -maaf- Da’i Ibrahim Sily makan siang di rumahku dan aku laksanakan apa yang diwajibkan dalam agamaku yaitu memuliakannya, kemudian ia pun pamit. Setelah pertemuan itu aku pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan suatu tugas. Waktu itu kami sudah mendekati persiapan seminar Ilmu Syar’i I yang akan diadakan di kota Cape Town. Lalu aku kembali ke Afrika Selatan tepatnya ke kota Cape Town.
Ketika aku berada di kantor yang telah disiapkan untuk kami di Ma’had Arqam, Dai Ibrahim Sily mendatangiku. Aku langsung mengenalnya dan aku ucapkan salam untuknya dan bertanya, “Apa yang kamu lakukan disini wahai Ibrahim.?” Ia menjawab, “Aku sedang mengunjungi tempat-tempat di Afrika Selatan untuk berdakwah kepada Allah. Aku ingin mengeluarkan masyarakat negeriku dari api neraka, mengeluarkan mereka dari jalan yang gelap ke jalan yang terang dengan memasukkan mereka ke dalam agama Islam.”
Setelah Ibrahim selesai mengisahkan kepada kami bahwa perhatiannya sekarang hanya tertumpah untuk dakwah kepada agama Allah, ia meninggalkan kami menuju suatu daerah… medan dakwah yang penuh dengan pengorbanan di jalan Allah. Aku perhatikan wajahnya berubah dan pakaiannya bersinar. Aku heran ia tidak meminta bantuan dan tidak menjulurkan tangannya meminta sumbangan. Aku merasakan ada yang mengalir di pipiku yang membangkitkan perasaan aneh. Perasaan ini seakan-akan berbicara kepadaku, “Kalian manusia yang mempermainkan dakwah, tidakkah kalian perhatikan para mujahid di jalan Allah!”
Benar wahai sudaraku. Kami telah tertinggal… kami berjalan lamban… kami telah tertipu dengan kehidupan dunia, sementara orang-orang yang seperti Da’i Ibrahim Sily, Da’i berbangsa Spanyol Ahmad Sa’id berkorban, berjihad dan bertempur demi menyampaikan agama ini. Ya Rabb rahmatilah kami. (alsofwah)
(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN karya Muhammad Shalih al-Qaththani, seperti yang dinukilnya dari tulisan Dr. Abdul Aziz Ahmad Sarhan, Dekan fakultas Tarbiyah di Makkah al-Mukarramah, dengan sedikit perubahan. PENERBIT DARUL HAQ, TELP.021-4701616)
Sdr. Abdullah,
Terimakasih dengan kisah yang menarik ini. Kami akan simpan dalam blog kami lainnya, http://kisahkisahislam.wordpress.com.
Kami lakukan EDITING tanggal 14 Febuari 2008. Thanks.
Masyaallah, masyaallah, nampaknya sdr dian ni lahir masa zaman Rasulullah…..
Alhamdulillahi wa syukurillah,
Menanggapi komentar saudara dian mengenai “jama`ah tabligh adalah kelompok yang muncul setelah 3 generasi terbaik,yakni Jaman Sahabat Rasulullah Shallallu Alaihi wasallam,tabi`in,tabi`it tabi`in”
Kalau boleh tahu dari mana pendapat ini muncul?
Sedangkan orang2 yang Allah SWT pilih buat da’wah n tabligh ini pun tidak sekalipun mengaku-ngaku dirinya adalah Jamaah Tabligh. Melainkan hanya hamba2 Allah SWT muslimin biasa, penerus kerja Rasulullah SAW, pewaris kitabullah Al-Qur’an yang atas kehendak Allah SWT dipilih untuk buat usaha da’wah.
Sedangkan apabila ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, hal itu tidak menjadikan ulama atau kegiatan yang ditahdzir oleh ulama yang Anda panuti menjadikan ulama lain tsb menjadi bid’ah, sesat, dll.
Saudara2 kita yang buat usaha da’wah ini pun berjalan atas bimbingan dan nasehat2 ulama, insya Allah.
yang jelas kita sama@ mintak pertolongan sm Alloh mdh2an Alloh kekalkan kt dlm usaha Agama.(Da’wah maksud hidup,Hidup u ntuk da’wah,Da’wah sampai mati,Mati dlm da’wah)
Salam…
just nak tahu sahaja..
apa pandangan saudara tentang setiap kali bila orang tabligh keluar untuk tempoh2 masa yang tertentu seperti 40 hari,kemudian meninggalkan rumah…anak,,isteri..
Walaupun telah memberi nafkah..seperti duit..
macam mana dengan keadaan keluarga yang ditinggalkan..
siapa nak bimbing mereka…?
Kindly Advise…
Thanks.
Pak Yana.
Keluarga yang ditinggal 40 hari tak perlu risau lah.
Ayat 1-2 suart Al Mulk, Allah ingin tahu siapa yang baik amalnya.
Ayat 1-3 suart Al Ashr, bahwa semua merugi bila tak beriman, beramal sholeh dan wasiat mewasiati
Baginda Ibrahim As dan keluarganya yang ditinggal dipadang pasir tak bertuan bahkan hingga 13 tahun. Apa beliau tidak care pada keluarga?
Kisah hijrahnya Nabi saw. Apa tanggung jawab Muhajirin dan apa pula tanggungjawan Anshor lalu apa yang dilakukan saat mereka bersatu ?
.
Keluarga Malik bi Anas berpisah 27 tahun karena perjuangan agama
Kami khuruj untuk belajar memeriksa keadaan amal agama diri kami. sudah cukupkah tuk menghadap Allah.
Keluarga kita sudahkan taat?
Bagaimana dengan umat?
Perintah Allah banyak sekali dan Allah bebaskan kita tuk memilih, taat seadanya atau sepenuhnya.
Kita boleh beramal hanya untuk diri sendiri tetapi karena agma Islam menginginkan kita berbagi dengan orang lain maka kami lakukan khuruj sebagai salah satu pilihanya diantara jutaan cara dakwah yang hari ini ada.
Memang ada resiko bila ada anggota keluarga yang keluar khuruj, namun tak khurujpun banyak resiko. Sunatullah kehidupan namanya
Mari kita hitung :
Kondisi keluarga yang kami tinggal :
1. Kita sudah beri cukup bekal ilmu agama seblumnya sehingga kaluarga faham apa nilai agama dan maksug usaha agama. kami tiap malam selalu bacakan kisah2 para Nabi, Shahabat dan pejuang Islam serta orang2 sholeh
2. Kitapun sudah beri cukup bekal keperluan rumah seperti uang dll. Istri, orang tua atau anak yang kita tinggalpun bukan patung atau robot yang tak bisa berfikir dan berusaha bila ada masalah saat suami khuruj
3. Kitapun sudah ajar untuk arti perjuangan Islam dan pengorbanan sehingga faham nilai sabar, ikhlas dan tawakal dll..dll
4. Dalam masa 40h itupun kita masih bisa pantau keadaan rumah
5. Selama 40 h kita bisa banyak doa untuk kesalamatan dan kebaikan mereka
6. Insya Allah kami masih kembali ke keluarga lagi lalu meneruskan urusan dunia : bekerja dan mengurus keluarga lagi.
6. dan masih banyak lagi
Sebagai pembanding saja apa manfaatnya bila kita tiba2 sakit teruk.
1. Kita tak bisa banyak ibadah karena lemah, stress dan cenderung malas sekalipun hanya doa
2. Uang untuk obat dan hospital berkali lipat besarnya dibanding 40 hari.
3. Kita juga harus tinggalkan office atau sawah kita
4. Keluarga dirumahpun stress, letih bolak balik hospital belum lagi cari uang tuk bayar
5. Ibadah keluargapun terganggu karena urus kita.
Kita tak dapat manfaat kecuali sekedar doa2 yang sempat kita baca atau pahala orang sakit. Keluarga kitapun hanya dapat pahala sabar merawat kita
6. Orang lain / umat tak dapat manfaat apa2 kecuali dokter yang mendapat manfaat dari uang yang kita keluarkan tuk berobat
dan masih banyak lagi
Sebaliknya bila kita dirumah
1. Kita asyik kumpul dirumah, tapi kita, keluarga dan umat tak dapat apa2. Kapan agama sampai ke Amerika, Eropa dan africa?
Bila kita hitung begitu banyak manusia (dari penjahat sampai ulama) dan masjid2 yang kita temui selama khurruj 3 hari,atau 40 hari dll. Insya Alllah banyak ilmu, pelajaran dan hikmah dll yang kita dapat dan perkara itu jelas tidak bisa kita dapat bila kita hanya duduk dirumah.
Selama 40h khuruj, rombongan tsb bisa mengunjungi 13 masjid. Bila 1 hari tiap orang bicara agama pada 5 orang maka 40 kita sudah berdakwah agama 200 kali. Bila jumlah jamaah 10 rang maka sudah 2000 orang yang terimbas dan tersuasana agama. manfaat tidak?
2. Dirumah Harta kita tak berkurang karena bisnis tak terganggu tapi hisab mesti kita tanggung beratnya.
3. Manisnya amal dan ibadah tak terasa kurang nilai pengorbannya.
4. Keluargapun jadi terbiasa bergantung kita karena kita selalu ada disisinya. Bila kita pergi untuk agama, anak istri kita akan lebih belajar tuk bergantung Allah swt
5. Keluarga jadi lebih lemah untuk menghadapi masalh dibanding bila sering ditinggal.
6. dan masih banyak lagi
Demikian pengalaman yang kami rasakan selama khuruj. Mahon maaf tidak bisa menceritakan secara baik.
Assalaamu’alaykum…
Ikhwah Fillah Rohimakumulloh….
Alloh ‘Azza wa Jalla telah memerintahkan kepada kita hambaNya agar jangan berpecah belah, sehingga janganlah karena perbedaan “Interpretasi/Pemahaman” lantas kita justru meninggalkan perkara yang diperintahkan oleh Alloh Jalla Jalaaluh, dan perkara yang di junjung tinggi oleh Nabiyyina Rosululloh Shollalloohu ‘Alayhi wa Sallam.
Saya pribadi sudah sangat banyak membaca, menelaah dan mentabayuni apa2 yang di Fatwakan oleh ‘Ulama2 yang oleh akhi ‘aditya’ di post di sini. Bahkan juga pendapat2 lain di berbagai situs di Internet.
Sehingga saya sendiri menyimpulkan dengan perbandingan, pendalaman (tabayun) yang saya temukan bahwa ‘banyak’ Fatwa2/Pendapat2 itu tidak bersesuaian dengan keadaan aslinya. Baik itu Fatwa mengenai Aqidahnya, Manhajnya, Kitab2 Rujukannya (ttg Fadhilah ‘Amal, Sedekah, dll). Yang mana perlu waktu utk di bahas di Forum ini, ^_^ saya pribadi tdk ada waktu banyak utk mendetail membahasnya.
Yang jelas kepada Ikhwah Fillah Rohimakumulloh, cobalah mentabayuni usaha da’wah wa Tabligh ini lebih dalam lagi. Saya akui usaha ini perlu “Mujahadah” yang Besar, bagaimana tidak, mendatangi tetangga2, meluangkan diri, waktu & Harta (utk keperluan ongkos dan makan ketika khuruj) menda’wahkan & mentablighkan pentingnya Iman & ‘Amal sebagai bekal di Dunia & AKhirat, pentingnya Belajar kpd ‘Ulama2, Membuat Suasana Agama di MEsjid, Lingkungan & RUmah, menyampaikannya di LIngkungan sendiri maupun ke daerah2 lain bahkan negara2 lain.
Ikhwah Fillah, kekuatan Umat Islam yang Hakiki bukanlah terletak pada Kekuasaan, Militer, Persenjataan, Ekonomi, Pengetahaun ttg Tekhnologi. Tetapi kekuatan Ummat ini hanya ada dalam Iman & ‘Amal sebgmana yang telah di ajarkan oleh Rosululloh Shollalloohu ‘Alayhi wa Sallam, sehingga dapat menarik ‘Nushrotulloh’ pertolongan dari Alloh ‘Azza wa Jalla.
Sebagai mana di Era Shohabat melawan tentara RUm & Parsi. Lalu bagaimana menarik pertolongan alloh ? maka tidak ada jalan lain yaitu membantu agama Alloh ‘Azza wa Jalla, sebagaimana yang Alloh telah Firmankan dalam al-Qur’an ;
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Alloh dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Alloh; sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. at-Taubah :71)
Cara memperbaiki Ummat ini tdk ada jalan lain kecuali memperbaiki Keyakinannya kepada Alloh dan Ajaran yang di Bawa oleh Rosululloh Shollaloohu ‘Alayhi wa Sallam, sehinggaa bisa menghasilkan ‘Natijah’nya yaitu perbaikan dalam ; Imaniyah, Ubudiyah, Muamalah, Muasyaroh & Akhlaqnya. dan hal itu tentu saja membutuhkan Fikir, Kerisauan dan gerak (Mujahadah & Korban) dalam menda’wahkan & mentablighkannya.
Imam Malik Rohimahullah dlm salah satu Qawliyahnya ; “Layyushliha Aakhiru Haadzihil Ummah, Illaa Maa Sholuha Awwaluha.” (Tidak dapat memperbaiki generasi terakhir dari umat ini, Kecuali apa yang telah dapat memperbaiki generasi terdahulu).
Terakhir Ikhwah Fillah Rohimakumulloh marilah kita sama2 Tela’ah Nasihat dari Shohabat & ‘Ulama berikut ini ;
“Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar”.
(Umar bin Khoththob)
“Akar dari kesalahan itu ada tiga. Pertama, kesombongan. Itulah yang menyebabkan iblis mengalami apa yang ia alami. Kedua, keserakahan, dan itulah yang mengeluarkan Adam dari Surga. Ketiga, kedengkian, dan itulah yang menjadikan salah satu anak Adam membunuh saudaranya. Maka barangsiapa berlindung dari keburukan tiga akar kesalahan itu, sesungguhnya ia telah melindungi dirinya dengan sebenar-benarnya. Karena kekafiran itu bersumber dari kesombongan. Karena kemaksiatan itu sumbernya keserakahan. Sedang kezhaliman itu sumbernya kedengkian.” (Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah)
“Hendaknya kita mengukur ilmu bukan dari tumpukan buku yang kita habiskan. Bukan dari tumpukan naskah yang kita hasilkan. Bukan juga dari penatnya mulut dalam diskusi tak putus yang kita jalani. Tapi…dari amal yang keluar dari setiap desah nafas kita”.
(Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah)
Al-Hafizh Ibnu Abdil Bar menyebutkan dari Zakaria bin Yahya yang berkata : “Saya telah mendengar Al-Ashma’i berkata : “Abdullah bin Hasan berkata : Adu mulut akan merusak persahabatan yang lama, dan mencerai beraikan ikatan (persaudaraan) yang kuat, minimal (adu mulut) akan menjadikan mughalabah (keinginan untuk saling mengalahkan) dan mughalabah adalah sebab terkuat putusnya ikatan persaudaraan.
(Mukhtasyar Jaami’ Bayan al-Ilmi wa Fadlihi hal. 278).
Akhirul kalaam, saya BerIstighfar jika ada kesalahan “Astaghfirulloohal ‘Adzhim”. dan Do’akan saya khususnya dan Ikhwah yang lainnya. Bisa terus Istiqomah dalam Usaha Mulia ini, bisa meningkatkan pengorbanan, dan Mati dalam keadaan Khusnul Khootimah, bisa mengucapkan Kalimah Laa Ilaahaillalloh, Muhammadurrosululloh.
Walloohu A’lam wa Musta’an.
Wassalaamu’alaykum Warohmatulloohi wa Barokaatuh
AQIDAH
AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH
(penjelasan ringkas)
Mohon dibaca dengan seksama, tawajjuh dan penuh perhatian…!!! Terima kasih…
1. Allah Ta’ala berfirman:
“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya)”. (QS. Asy-Syura: 11).
Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (makhluk Allah) terbagi atas dua bagian, yaitu benda dan sifat benda. Kemudian benda terbagi menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas terkecil (para ulama menyebutnya dengan al jawhar al fard) dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (jism). Benda yang terakhir ini juga terbagi menjadi dua bagian:
a. Benda lathif : sesuatu yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, roh, angin, dan sebagainya.
b. Benda katsif : sesuatu yang dapat dipegang oleh tangan, seperti manusia, tanah, benda-benda padat dan lain sebagainya.
Adapun sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya. Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah ta’ala tidak menyerupai makhluk-Nya, bukan merupakan al jawhar al fard, juga bukan benda lathif ataupun benda katsif. Dan Dia tidak boleh disifati dengan apapun dari sifat-sifat benda. Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena seandainya Allah mempunyai tempat dan arah, maka akan banyak yang serupa dengan-Nya. Karena dengan demikian berarti Ia memiliki dimensi (panjang, lebar dan kedalaman). Sedangkan sesuatu yang demikian, maka ia adalah makhluk yang membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam dimensi tersebut.
2. Rosulullah saw, bersabda, yang artinya:
“Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (HR. Bukhari, Baihaqi dan Ibnu al Jarud).
Makna hadits ini, bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘arsy, langit, manusia, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).
Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah.
Al Imam al Baihaqi (W. 458H) dalam kitabnya al Asma wa as-Shifat, hlm 506, mengatakan: “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah, mengambil dalil dari:
3. Sabda Rosulullah saw, yang artinya:
“Engkau Az-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya) tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah Al-Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu”. (HR. Muslim dan lainnya.).
Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat”.
Adapun salah satu riwayat hadits jariyah yang zhahirnya memberi persangkaan bahwa Allah ada di langit, maka hadits tersebut tidak boleh diambil secara zhahirnya, tetapi harus ditakwilkan dengan makna yang sesuai dengan sifat-sifat Allah, jadi maknanya adalah Dzat yang sangat tinggi derajat-Nya sebagaimana dikatakan oleh Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, diantaranya adalah al Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim. Senada dengan perkataan Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib-semoga Allah meridhainya, yang maknanya:
“Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat”. (di tuturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitabnya al Farq Bayna al Firaq hlm. 333).
Karenanya tidak boleh dikatakan Allah ada di satu tempat atau ada di mana-mana, juga tidak boleh dikatakan Allah ada di satu arah atau semua arah penjuru. Syekh ‘Abdul Wahhab asy-Sya’rani (W. 973 H) dalam kitabnya Al Yawaqiit Wa al Jawahir menukil perkataan Syekh ‘Ali al Khawwash: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di mana-mana”. Aqidah yang mesti diyakini bahwa Allah ada tanpa arah dan tempat.
Al Imam ‘Ali-semoga Allah meridhainya- mengatakan yang maknanya:
“Sesungguhnya Allah menciptakan ‘arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya”. (Diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq Bayna al Firaq, hlm. 333).
Sayyidina Ali –semoga Allah meridhainya- juga mengatakan yang maknanya:
“Sesungguhnya yang menciptakan aina (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya dimana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kaifa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana”. (diriwayatkan oleh Abu al Muzhaffar al Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hlm. 98).
Menurut Ulama Tauhid yang dimaksud al-Mahdud (sesuatu yang berukuran) adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk, baik kecil maupun besar. Sedangkan pengertian al-Hadd (batasan) menurut mereka adalah bentuk, baik kecil maupun besar. Adz-Dzarrah (sesuatu yang terlihat dalam cahaya matahari yang masuk ruangan melalui jendela) mempunyai ukuran, demikian juga ‘arsy, cahaya, kegelapan dan angin masing-masing mempunyai ukuran.
Al Imam Ali –semoga Allah meridhainya- berkata, yang maknanya:
“Barangsiapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)”. Diriwayatkan oleh al Imam Abu Nu’man (W. 430 H) dalam Hilyah al Auliya’ (Juz I hlm. 72).
• Maksud perkataan Sayyidina ‘Ali tersebut adalah sesungguhnya berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang kecil atau berkeyakinan bahwa Dia memiliki bentuk yang meluas tidak berpenghabisan merupakan kekufuran.
• Semua bentuk baik lathif maupun katsif, kecil ataupun besar memiliki tempat dan arah serta ukuran. Adapun Allah bukanlah merupakan benda dan tidak disifati dengan sifat-sifat benda, karenanya Ulama Ahlussunnah mengatakan: “Allah ada tanpa tempat dan arah serta tidak mempunyai ukuran, besar maupun kecil”. Karena sesuatu yang memiliki tempat dan arah pastilah benda. Juga tidak boleh dikatakan tentang Allah bahwa tidak ada yang mengetahui tempat-Nya kecuali Dia. Adapun tentang benda katsif bahwa ia mempunyai tempat, hal ini jelas sekali. Dan mengenai benda lathif bahwa ia mempunyai tempat, penjelasannya adalah: bahwa ruang kosong yang di isi oleh benda lathif, itu adalah tempatnya. Karena definisi tempat adalah ruang kosong yang di isi oleh suatu benda.
Al Imam as-Sajjad Zayn al ‘Abidin ‘Ali ibn al Husayn ibn ‘Ali ibn Abi Thalib (38 H- 94 H), berkata, yang maknanya:
“Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat”. Dan dia berkata: “Engkaulah Allah yang maha suci dari hadd (benda, bentuk dan ukuran)”. Beliau juga berkata: “Maha suci Engkau yang tidak bisa diraba maupun disentuh”, yakni bahwa Allah tidak menyentuh sesuatupun dari makhluk-Nya dan Ia tidak disentuh oleh sesuatupun dari makhluk-Nya karena Allah bukan benda. Allah maha suci dari sifat berkumpul, menempel, berpisah dan tidak berlaku jarak antara Allah dan makhluk-Nya karena Allah bukan benda dan ada tanpa arah. (Diriwayatkan al Hafizh az-Zabidi dalam al Ithaf dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah ahlul bait, keturunan Rosulullah saw).
Hal ini juga sebagai bantahan terhadap orang yang berkeyakinan wahdatul wujud dan hulul.
Al Imam Abu Hanifah –semoga Allah meridhainya- berkata yang maknanya:
“Barangsiapa yang mengatakan saya tidak tahu apakah Allah berada di langit ataukah berada di bumi maka dia telah kafir” (diriwayatkan oleh al Maturidi dan lainnya).
Al Imam Syekh al ‘Izz ibn ‘Abd as-Salam asy-Syafi’i dalam kitabnya Hall ar-Rumuz menjelaskan maksud Imam Abu Hanifah, beliau mengatakan: ”karena perkataan ini memberikan persangkaan bahwasanya Allah bertempat, dan barangsiapa yang menyangka bahwa Allah bertempat maka dia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Demikian juga dijelaskan maksud Imam Abu Hanifah ini oleh al Bayadli al Hanafi dalam Isyaraat al Maraam.
Al Imam al Hafizh ibn al Jawzy (W. 597 H) mengatakan dalam kitabnya Daf’u Syubah at-Tasybih, maknanya: ”Sesungguhnya orang yang mensifati Allah dengan tempat dan arah maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhuk-Nya) dan mujassim (orang yang meyakini bahwa Allah adalah jism; benda), yang tidak mengetahui sifat Allah”.
Di dalam kitab Al Fatawa al Hindiyyah, cetakan Dar Shadir, jilid II, hlm. 259 tertulis sebagai berikut: “Adalah kafir orang yang menetapkan tempat bagi Allah ta’ala”.
Al Imam Abu Hanifah –semoga Allah meridhainya- dalam kitabnya al Washiyyah berkata yang maknanya: “Bahwa penduduk surga melihat Allah ta’ala adalah perkara yang haqq (pasti terjadi), tanpa (Allah) disifati dengan sifat-sifat benda, tanpa menyerupai makhluk-Nya dan tanpa (Allah) berada di suatu arah”. Ini adalah penegasan Al Imam Abu Hanifah –semoga Allah meridhainya- bahwa beliau menafikan arah dari Allah ta’ala.
Al Imam Malik –semoga Allah meridhainya- berkata: “Ar-Rahman ‘ala al-‘arsy istawa sebagaimana Allah mensifati Dzat (hakekat)-Nya dan tidak boleh dikatakan bagaimana, dan kaifa (sifat-sifat makhluk) adalah mustahil bagi-Nya”. (diriwayatkan oleh al Baihaqi).
Maksud perkataan al Imam Malik tersebut, bahwa Allah maha suci dari semua sifat benda, seperti duduk, bersemayam, berada di suatu tempat dan arah dan sebagainya.
Al Imam as-Syafi’i –semoga Allah meridhainya- berkata: “Barangsiapa yang berusaha untuk mengetahui pengaturnya (Allah) hingga meyakini bahwa yang ia bayangkan dalam benaknya adalah Allah, maka ia adalah musyabbih; kafir. Dan jika ia berhenti pada keyakinan bahwa tidak ada Tuhan (yang mengaturnya) maka dia adalah mu’aththil –atheis-; kafir. Dan jika ia berhenti pada keyakinan bahwa pasti ada pencipta yang menciptakannya dan tidak menyerupainya serta mengakui bahwa dia tidak akan bisa membayangkan-Nya maka dialah muwahid (orang yang mentauhidkan Allah); muslim”. (diriwayatkan oleh al Baihaqi dan lainnya).
Al Imam Ahmad bin Hanbal dan al Imam Tsauban bin Ibrahim Dzu an-Nun al Mishri, salah seorang murid terkemuka al Imam Malik –semoga Allah meridhai keduanya- berkata: ”Apapun yang terlintas dalam benakmu (tentang Allah) maka Allah tidaklah menyerupai itu (sesuatu yang terlintas dalam benak)”. (diriwayatkan oleh Abu al Fadli at Tamimi dan al Khatib al Baghdadi).
Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi –semoga Allah meridhainya- (227-321 H) berkata: ”Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya), Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah tersebut”. Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi ini merupakan ijma’ (konsensus) para sahabat dan salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah). Dalil dari perkataan tersebut, bahwasannya bukanlah nabi Muhammad saw, naik ke atas untuk bertemu dengan-Nya, melainkan maksud mi’raj adalah memuliakan Rosulullah saw, dan memperlihatkan kepadanya keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Isra’ ayat 1. Juga tidak boleh berkeyakinan bahwa Allah mendekat kepada Nabi Muhammad saw, sehingga jarak keduanya dua hasta atau lebih dekat, melainkan yang mendekat kepada Nabi Muhammad saw, disaat mi’raj adalah Jibril as, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al Imam al Bukhari (W. 256 H) dan lainnya dari as-Sayyidah ‘Aisyah –semoga Allah meridhainya-.
Adapun ketika seseorang menengadahkan kedua tangannya kearah langit ketika berdoa, hal ini tidak menandakan bahwa Allah berada di arah langit/ atas. Akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah. Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat ia menghadap ka’bah. Hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena ka’bah adalah kiblat shalat. Penjelasan seperti ini di tuturkan oleh para Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah seperti al Imam al Mutawalli (W. 478 H) dalam kitabnya al-Ghun-yah, Imam al Ghazali (W. 505 H) dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulum ad-Din, al Imam an-Nawawi (W. 676 H) dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim dan masih banyak lagi. Perkataan ini juga merupakan bantahan terhadap pengikut paham wahdah al wujud yang berkeyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya atau pengikut paham hulul yang berkeyakinan bahwa Allah menempati sebagian makhluk-Nya. Dan ini adalah kekufuran berdasarkan ijma’ kaum muslimin sebagaimana dikatakan oleh al Hafizh as-Suyuthi, juga para panutan kita ahli tashawwuf sejati seperti al Imam al Junayd al Baghdadi (W. 297 H), al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H), Syekh Abd al Qadir al Jilani (W. 561 H) dan semua imam tashawwuf sejati, mereka selalu memperingatkan masyarakat akan orang-orang yang mengaku dusta sebagai pengikut tarekat tashawwuf dan meyakini aqidah wahdah al wujud dan hulul. Beliau juga berkata: “Barangsiapa mensifati Allah dengan salah satu sifat manusia maka ia telah kafir”.
Di antara sifat-sifat manusia adalah bergerak, diam, turun, naik, duduk, bersemayam, mempunyai jarak, menempel, berpisah, berubah, berada pada suatu tempat dan arah, berbicara dengan huruf, suara dan bahasa dan sebagainya. Maka orang yang mengatakan bahwa bahasa Arab atau bahasa-bahasa selain bahasa arab adalah bahasa Allah atau kalam Allah yang azali (tidak mempunyai permulaan) dengan huruf, suara atau semacamnya, dia telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya maka ia telah terjerumus kedalam kekufuran, begitu juga orang yang meyakini wahdah al wujud dan hulul.
Al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H) dalam al Burhan al Mu-ayyad berkata: “Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegangan kepada zhahir al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad saw, yang mutasyabihat, sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran”.
Mutasyabihat artinya nash-nash al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad saw, yang dalam bahasa arab mempunyai lebih dari satu arti dan tidak boleh diambil secara zhahirnya, karena hal tersebut mengantarkan kepada tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Akan tetapi wajib dikembalikan maknanya sebagaimana perintah Allah dalam al-Qur’an kepada ayat-ayat muhkamat, yakni ayat-ayat yang mempunyai satu makna dalam bahasa arab, yaitu makna bahwa Allah tidak menyerupai segala sesuatu dari makhluk-Nya. Di antara ayat-ayat mutasyabihat yang tidak boleh di ambil secara zhahirnya adalah firman Allah ta’ala dalam surat Thaha ayat 5:
Ayat ini tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah duduk (jasala) atau bersemayam atau berada di atas ‘arsy dengan jarak atau bersentuhan dengannya. Juga tidak boleh dikatakan bahwa Allah duduk tidak seperti duduk kita atau bersemayam tidak seperti bersemayamnya kita, karena duduk dan bersemayam termasuk sifat khusus benda sebagaimana yang dikatakan oleh al Hafizh al Baihaqi (W. 458H), al Imam Mujtahid Taqiyyuddin as-Subki (W. 756 H) dan al Hafizh Ibnu Hajar (W. 852 H) dan lainnya. Kemudian kata istawa sendiri dalam bahasa arab mempunyai 15 makna. Karena itu kata istawa tersebut harus ditafsiri dengan makna yang layak bagi Allah dan harus selaras dengan ayat-ayat muhkamat. Berdasarkan ini, maka tidak boleh menerjemahkan kata istawa ke bahasa Indonesia dan bahasa lainnya karena kata istawa mempunyai 15 makna dan tidak mempunyai padan kata (sinonim) yang mewakili 15 makna tersebut. Yang diperbolehkan adalah menerjemahkan maknanya, makna kata istawa dalam ayat tersebut adalah qahara (menundukkan atau menguasai). Al Imam ‘Ali-semoga Allah meridhainya- mengatakan: “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya”.
Maka ayat tersebut diatas (surat Thaha: 5) boleh ditafsirkan dengan qahara (menundukkan dan menguasai), yakni Allah menguasai ‘arsy sebagaimana Dia menguasai semua makhluk-Nya. Karena al-Qahr merupakan sifat pujian bagi Allah. Dan Allah menamakan Dzat-Nya al-Qahir dan al-Qahhar dan kaum muslimin menamakan anak-anak mereka dengan nama ‘Abd (hamba) al Qahir dan ‘Abd al Qahhar. Tidak seorangpun dari umat Islam yang menamakan anaknya ‘Abd al Jalis (al Jalis adalah nama bagi yang duduk). Karena duduk adalah sifat yang sama-sama dimiliki oleh manusia, jin, hewan dan malaikat. Penafsiran diatas tidak berarti bahwa Allah sebelum itu tidak menguasai ‘arsy kemudian menguasainya, karena al Qahr adalah sifat Allah yang azali (tidak mempunyai permulaan) sedangkan ‘arsy merupakan makhluk yang baru (yang mempunyai permulaan). Dalam ayat ini, Allah menyebut ‘arsy secara khusus karena ia adalah makhluk Allah yang paling besar bentuknya.
Ibnu al Mu’allim al Qurasyi (W. 725 H) menyebutkan dalam karyanya Najm al Muhtadi menukil perkataan al Imam al Qadli Najm ad-Din dalam kitabnya Kifayah an-Nabih fi Syarh at-Tanbih bahwa ia menukil dari al Qadli Husayn (W. 462 H) bahwa al Imam asy-Syafi’i menyatakan kekufuran orang yang meyakini bahwa Allah duduk diatas ‘Arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya. Yang menta’wil istawa dengan qahara adalah para ulama Ahlussunah wal Jama’ah. Diantaranya adalah al Imam ‘Abd Allah ibnu Yahya ibnu Mubarak (W. 273 H), al Imam Abu Manshur al Maturudi al Hanafi (W. 333 H), al Ghazali asy-Syafi’i (W. 505 H), al Hafizh Ibnu al Jawzi al Hanbali (W. 597 H), al Imam Abu ‘Amr ibnu al Hajib al Maliki (W. 646 H), Syekh Muhammad Mahfuzh at-Termasi al Indonesi asy-Syafi’i (1285-1338 H), Syekh Nawawi al Jawi al Indonesi asy-Syafi’i (1314-1397 H).
Dan orang yang mengambil ayat mutasyabihat ini secara zhahirnya, apakah yang ia katakan tentang ayat (al-Baqarah: 115):
Jika orang itu mengambil zhahir ayat ini berarti maknanya: “Ke arah manapun kalian menghadap, di belahan bumi manapun, niscaya Allah ada di sana”. Dengan ini berarti keyakinannya saling bertentangan. Akan tetapi makna ayat di atas bahwa seorang musafir yang sedang melakukan shalat di atas hewan tunggangannya, ke arah manapun tunggangannya itu menghadap selama arah itu adalah arah tujuannya maka di sanalah kiblat Allah. Sebagaimana yang dikatakan Mujahid (W. 102 H), murid Ibnu ‘Abbas. Dan begitulah seluruh ayat mutasyabihat harus dikembalikan kepada ayat-ayat muhkamat dan tidak boleh diambil secara zhahirnya. Seperti firman Allah dalam surat an-Nur ayat 35:
Tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah adalah cahaya atau Allah adalah sinar. Karena kata cahaya dan sinar adalah khusus bagi makhluk. Allah-lah yang telah menciptakan keduanya, maka Ia tidak menyerupai keduanya. Tetapi makna ayat ini, bahwa Allah menerangi langit dan bumi dengan cahaya matahari, bulan dan bintang-bintang. Atau maknanya, bahwa Allah adalah pemberi petunjuk penduduk langit, yakni malaikat dan pemberi petunjuk orang-orang mukmin dari golongan jin dan manusia, yang berada di bumi, yaitu petunjuk kepada keimanan. Sebagaimana yang dikatakan ‘Abd Allah ibnu ‘Abbas –semoga Allah meridhainya- salah seorang sahabat Nabi saw. Ta’wil ini diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam kitabnya al Asma’ wa ash-Shifat.
Abu Bakr ash-Shiddiq –semoga Allah meridhainya- berkata yang maknanya: ”Pengakuan bahwa pemahaman seseorang tidak mampu untuk sampai mengetahui hakekat Allah adalah keimanan, adapun mencari tahu tentang hakekat Allah, yakni membayangkan-Nya adalah kekufuran dan syirik”.
Maksudnya adalah kita beriman bahwa Allah ada, tidak seperti makhluk-Nya, tanpa memikirkan tentang Dzat(hakekat)-Nya. Adapun berfikir tentang makhluk Allah adalah hal yang dianjurkan, karena segala sesuatu merupakan tanda akan ada-Nya. Perkataan Abu Bakr ash-Shiddiq –semoga Allah meridhainya- tersebut diriwayatkan oleh seorang ahli fiqh dan hadits, al Imam Badr ad-Din az-Zarkasyi asy-Syafi’i (W. 794 H) dan lainnya.
———————————————————Why——————————————————–
Demikian penjelasan ini kami kutip dan kami ringkas dari buku “AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH” yang diterbitkan oleh Syahamah press dan dari kitab-kitab yang judulnya telah kami cantumkan diatas, serta hasil mudzakaroh dengan para Ulama. Dan bila pembaca ingin penjelasan lebih luas silahkan baca buku “ALLAH ADA TANPA TEMPAT” yang diterbitkan dan disebarluaskan oleh Ponpes Dar Ahlussunnah Wal Jama’ah, Kubu-Riau atau silahkan baca kitab-kitab yang judulnya telah kami sebutkan dengan bertanya kepada Ulama-ulama Ahlussunnah terkemuka.
Semoga bermanfaat dan semoga Allah memberikan pemahaman kepada kita semua. Amiiiin….
Wassalam….
Mohon di edit….
jazakallah…
Subhanallah, saudara – saudaraku yang sudah mengenal dan sudah ambil bagian dalam usaha yang sangat mulia ini. Semoga kita tetap istiqomah dalam usaha ini. Jika terjadi banyak penolakan itulah buktinya bahwa da’wah ini adalah usaha yang sangat muliaaaaaaaaaaa.Do’akan agar kami bisa istiqomah dalamda’wah, bisa lebih banyak berkorban dan hidup dan mati dalam da’wah.
Pelma
STIKOM BALI
Sdr. Nukman,
Jika sdr. berkeinginan dido’akan, maka biasakan untuk mendo’akan teman-teman kita, termasuk kami sendiri. Para Shahabat RA selalu menjaga untuk saling mendo’akan, bahkan Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, pernah berdo’a secara khusus untuk Ummar RA sebelum masuk Islam. Insya Allah, jika kita membiasakan mendo’akan kaum muslimin yang lain, maka para Malaikat akan mendo’akan kita juga.
Terimakasih,
assalamuala’ikum
salam knal dari saya anak banyak dosa minta pengarahan tentang agama
DR:hamba Allah yg banyak dosa
Sdr, Juanda,
Wa’alaikumus salamTidak ada hamba yang lepas dari dosa, termasuk kami sendiri. Jika sdr. mengetahui bahwa banyak amal ditinggalkan atau bahkan melakukan hal yang dilarang oleh agama ini sebagai dosa, itu tandanya sdr. mempunyai niat yang baik sebagai hamba Allah swt.
Para Shahabat RA pernah bersedih hati karena terlambat sholat berjama’ah, karena hal itu dianggap sebagai kesalahan besar. Berapa banyak di antara kita, dan kami meninggalkan sholat berjama’ah itu. Tetapi kita masih belum seperti Shahabat itu.
Jadi kami sendiri memerlukan nasehat, dan kita, sdr. dan kami, marilah kita sama-sama untuk saling menasehati. Itulah yang diajarkan oleh Allah swt terhadap kita. Jadi sangat tepat ucapan Imam Syafi’i perihal surat Al-ashr (103):1-3 itu, mudah-mudahan kita tetap dalam suasana saling menasehati.
Terimakasih,
Ass…..
saya rooney yang baru belajar tentang dakwah,mohon nasehatnya agar dapat istiqomah dalam berdakwah….
Wass…..
Sdr. Rooney,
Wa’alaikumus salam
Saling menasehati merupakan perkara yang sangat penting dalam kalangan kaum muslimin. APALAGI saling mengingatkan agar kita tetap dalam kerja SALING MENGINGATKAN dalam lingkungan kaum muslimin. Saling mengingatkan di kalangan kaum muslimin tidak hanya menggunakan kata-kata yang banyak, tetapi kadangkala hanya dengan ungkapan sederhana.
Kita pernah mendengar kisah dialog yang menarik antara Nabi kita dan istrinya, ketika itu Nabi menyuruh para Shahabat untuk berqurban dan juga bercukur rambut. Tetapi para Shahabat RA tidak melakukannya, dan Nabi kembali ke istrinya menyampaikan perkara bahwa para Shahabat RA tidak mau melakukan apa yang dimintanya. Istri beliau menyampaikan kepada beliau, bahwa seharusnya Nabi sendiri bercukur rambut dan berqurban. Nabi kita sangat paham, maka dengan mengikuti pesan istrinya, akhirnya para Shahabat RA melakukan cukur rambut dan juga berqurban.
Jangan lupa untuk banyak meminta nasehat kepada kaum muslimin yang lain, terutama para ulama atau ustadz, ataupun kaum muslimin yang telah terjun dalam usaha da’wah ini. Dan kamipun selalu memerlukan nasehat dari kaum muslimin, tidak hanya antum sendiri. Itu yang diajarkan oleh Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Bahwa agama ini adalah nasehat.
Terimakasih,
saya mohon petunjuk nya saya mau menuju jalan Allah untuktobat
Sdr. Rooney,
Jika sdr. berkeinginan untuk menuju ke Jalan Allah swt untuk banyak bertaubat, dan kami sendiri sangat berkeinginan untuk hal itu. Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, selalu mengajarkan kepada ummatnya untuk selalu banyak bertaubat dan istighfar, bahkan Nabi kita lebih dari 70 kali istighfar sesuai menurut sumber. Padahal kita sendiri mengetahui bahwa beliau pasti diampuni. Itu menunjukan bahwa sdr, kami juga berkeinginan untuk hal itu.
Mudah-mudahan selalu dijaga untuk hal itu.
SIBUKKAN DIRIMU UNTUK AGAMA, JIKA TIDAK KAU AKAN TETAP SIBUK TAPI BUKAN UNTUK AGAMA….
GUNAKAN WAKTUMU UNTUK AGAMA, JIKA TIDAK WAKTUMU AKAN TETAP HABIS TAPI BUKAN UNTUK AGAMA….
GUNAKAN HARTAMU UNTUK AGAMA, JIKA TIDAK HARTAMU AKAN TETAP HABIS TAPI BUKAN UNTUK AGAMA….
MATILAH KAMU UNTUK AGAMA, JIKA TIDAK KAUPUN AKAN TETAP MATI TAPI BUKAN UNTUK AGAMA….
(MAULANA INNAMUL HASAN)
KESUSAHAN HARI INI UNTUK AGAMA ADALAH KESENANGAN YANG TIADA TARA DI HARI ESOK (AKHERAT)
SUNGGUH JIHADKU DI MEDAN YANG SULIT, DINGIN DAN MENCEKAM LEBIH AKU CINTAI DAN RINDUKAN DARI PADA MALAM YANG PENUH GAIRAH BERSAMA SEORANG PERAWAN (KHALID BIN WALID)
Assallamu Alaikum Wr.wb
Islam Therapy berdakwah melalui ilmu kesehatan, entepreneurship, dan IPTEK. Silahkan Download Gratis Ebook Islam Therapy, Program Komprehensif Internasional Untuk Menanggulangi Masalah Penyalahgunaan Narkoba, HIV/AIDS, dan Gangguan Jiwa berbasis Ajaran Islam Edisi Satu Abad Kebangkitan Nasional di :
http://www.scribd.com/doc/7540330/EBOOK-ISLAM-THERAPY
Mohon Bantuannya untuk menyebarluaskan informasi ini. sekian dan Terima Kasih.
Wassallam
Assalamu’alaikum
salam kenal dari purwakarta
Ustadz … blog yang (http://shahabat.wordpress.com)
kok udah nggak ada ya
Istiqomah terus akhi ..
Syukron
Wa’alaikumus salam,
Situs http://shahabat.wordpress.com memang sudah dihapus, dan isinya disatukan ke dalam situs http://usahadawah.com ataupun http://usahadawah.wordpress.com. Dan kami mohon maaf, beberapa artikelnya belum sempat diedit lagi. Terimakasih atas perhatiannya.
aslm wr.wb. …
Wa’alaikumussalam wr. wb.
Sdr. Irzan,
Kekurangan atau kelemahan dari seseorang itu tetap harus kita tutup dengan baik, artinya kita berikan pengertian ataupun pengajaran. Banyak jalan untuk memberikan pengertian ataupun pengajaran terhadap seseorang ini, misalkan kita menyampaikan ke temannya yang lebih dihormati untuk lebih menasehatinya, ataupun juga menyampaikan ke ustadz yang dekat dengan seseorang tersebut. Sehingga proses pengajaran dan pencerahan ini akan berjalan dengan baik, apalagi jika seseorang itu ada hubungan dengan kita dalam rumah tangga. Karena kita tetap harus menghormati sdr. kita itu untuk menghindari dari hal-hal yang kurang baik dalam kerukunan dalam rumah tangga kita sendiri.
December 20, 2007 at 4:01 pm
Eid Mubarak saya ucapkan serta salam hormat.