Madrasah Da’wah dan Islam

Asal Muasal Adzan dan Iqomat Melalui Mimpi Shahabat dan Perihal Mimpi Maulana Ilyas

Posted by: Haitan Rachman on: January 7, 2008

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebelumnya telah kami sampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan mimpi yang mana kami sampaikan hal tersebut setelah kami membaca seorang ulama salafi memberikan pandangan atau pernyataan yang berlebihan terhadap usaha da’wah dan tabligh ini. Sdr. sekalian dapat membaca enam tulisan kami dalam blog ini juga.

Setelah kami sampaikan pandangan berimbang itu, terdapat beberapa komentar yang masuk ke dalam blog kami. Dan kami sampaikan juga di forum yang lebih terbuka. Kami sangat berharap mudzakarah tersebut memberikan keterbukaan bagi kaum muslimin, terutama juga untuk sebagian salafi yang sudah jauh dan banyak memberikan pernyataan sepihak terhadap usaha da’wah. Tetapi kami perlu berlapang dada perihal-perihal tersebut.

Setelah tulisan ini, kami persilahkan kepada kaum muslimin untuk mengambil kesimpulan sendiri, termasuk juga teman-teman salafi sendiri. Apakah mimpi seperti Maulana Ilyas Rah itu seperti yang dituduhkan ulama salafi atau merupakan anugrah yang Allah swt berikan kepada seseorang? Sehingga kami tidak terlalu berdetail-detail lagi perihal itu, karena kami telah sampaikan hujah ataupun dalil penjelasan itu. Dan juga kami sudah sampaikan satu bab yang berkaitan dengan mimpi. Dan silahkan untuk dicari kitab tersebut dengan baik, kami dapatkan kitab tersebut di http://www.waqfeya.com/. Apakah salafi akan mengakuinya atau tidak? Kami serahkan perkara ini pada diri masing-masing. Dan kami tidak dapat memberikan hidayah kepada siapapun, dan hanya Allah swt tempat kita bergantung kita semua.

Dan bagi kami sendiri yang terjun dalam usaha da’wah ini tidak terpengaruh dengan mimpi tersebut, karena yang terpenting bagi kami Islam telah mengajarkan bagaimana kita menyikapi mimpi itu sendiri. Dan pelajaran-pelajaran Islam lebih jelas menerangkan hal-hal yang berkaitan dalam aktifitas-aktifitas usaha da’wah itu sendiri, seperti silaturahmi, da’wah, belajar, mengajar, sholat, ‘itikaf, dzikir, musyawarah, pikir kaum muslimin, saling menghormati, adab-adab keseharian, musyawarah, dll.

Dan kami telah sampaikan dalam tulisan sebelumnya, dengan adanya pernyataan sepihak sebagian Ulama Salafi, menjadikan kami pribadi terdorong untuk lebih mendalami uasaha da’wah ini lebih Ilmiyyah. Sehingga kami pribadi menjadi terbuka sendiri terhadap ucapan Maulana Ilyas Rah sendiri yang ringkas, “Bawalah Usaha Da’wah Dengan Ilmiyyah”. Kami berharap kepada Allah swt agar kami diistiqomahkan dalam kerja da’wah ini. Dengan begitu kami banyak ucapkan terimakasih terhadap ustadz salafi dan juga teman-teman salafi, dengan asbab salafi ini kami sendiri menjadi terbuka.

Tulisan ini menjelaskan sebuah mimpi yang dialami seorang shahabat tentang adzan dan iqomat. Mudah-mudahan kaum muslimin dapat memahami bahwa mimpi yang baik itu dapat diberikan pada siapapun. Kisah ini kami ambil dari satu Kitab Nailur Author Asy-Syaukani yang merupakan Kitab Syarh Kitab Al-Muntaqo Ibnu Thaimiyyah Rah. Kami dapatkan juga dari kitab Minhajul Muslim Syeikh Abu Bakar Al-jazairi.

“Dari Muhammad Bin Ishaq, dari Az-Zuhri, dari Sa’id Bin Musayyab, dari Abdullah Bin Zaid, ia berkata: Ketika Rasulullah SAW sudah menyetujui untuk dipukulnya lonceng, padahal sebenarnya beliau sendiri tidak menyukainya, karena menyerupai orang-orang Nashrani.

Pada suatu malam ketika aku tidur, tiba-tiba aku bermimpi. Ada seorang laki-laki yang mengenakan pakaian hijau, mengelilingi aku sedang ditangannya ada lonceng yang dibawanya. Lalu aku bertanya: Hai Hamba Allah! Apakah lonceng ini akan kamu jual? Ia menjawab: Akan kamu pergunakan untuk apa? Aku menjawab: Akan kupakai untuk memanggil orang untuk sholat.

Ia bertanya lagi: Maukah engkau, kutunjukkan yang lebih baik dari itu? Kau menjawab: Baiklah. Ia menjawab: Yaitu hendaklah engkau berkata:

ALLLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR

ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH, ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH

ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH, ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH

HAYYA ‘ALASH SHALAH, HAYYA ‘ALASH SHALAH

HAYYA ‘ALAL FALAH, HAYYA ‘ALAL FALAH

ALLLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR

LAA ILAAHA ILLALLAAH

Abdullah bin Zaid berkata: Kemudian ia mundur tidak seberapa jauh, dan berkata: Apabila engkau hendah iqomah, maka katakanlah:

ALLLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR

ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH

ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH

HAYYA ‘ALASH SHALAH

HAYYA ‘ALAL FALAH

QADQAAMATISH SHALAH, QADQAAMATISH SHALAH

ALLLAHU AKBAR

LAA ILAAHA ILLALLAAH

Abdullah bin Zaid berkata: Kemudian di waktu pagi aku datang kepada Rasulullah SAW untuk menceritakan kepadanya apa yang aku impikan itu. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya mimpi kamu itu adalah mimpi yang benar, Insya Allah. Kemudian Nabi memerintahkan adzan. Maka Bilal, Maula Abubakr, beradzan dengan lafal-lafal itu. Dan menyeru Rasulullah SAW untuk sholat.

Abdullah Bin Zaid berkata: Lalu Bilal datang kepada Nabi, kemudian memanggilnya pda suatu pagi untuk sholat subuh. Lalu Bilal mengeraskan suaranya dengan tinggi: ASH-SHALAATU KHAIRUM MINAN NAUUM. Sa’id bin Musayyab berkata: Lalu lafal ini dimasukkan ke dalam bagian dari adzan untuk sholat subuh.” (HR AHMAD)

“Dari Muhammad Bin Ishaq, dari Muhammad Bin Ibrahim At-Taimiy, dari Muhammad Bin Abdullah Bin Zaid, dari ayahnya, yang dikatakan dalam hadist tersebut: Maka tatkala di waktu pagi, aku datang kepada Rasulullah SAW, lalu aku ceritakan kepadanya apa yang kulihat itu. Maka Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya ini adalah mimpi yang benar, Insya Allah. Berdirilah bersama Bilal dan sampaikanlah kepadanya apa yang kamu impikan itu, karena Bilal itu lebih keras suaranya daripada kamu.

Ia berkata: Lalu aku menemui Bilal dan saya sampaikan kepadanya apa yang aku impikan itu, dan Bilal pun lalu adzan dengan lafal-lafal itu. Ia berkata: Lalu ‘Ummar Ibnul Khatab mendengar yang demikian itu, sedang ia berada di rumahnya. Kemudian keluar sambil menyeret selendangnya, dan berkata: Demi Allah, Yang telah mengutus Engkau (Muhammad) dengan benar. Sungguh akupun telah mimpi, persis seperti yang ia impikan. Lalu Rasulullah SAW mengucapkan: ALHAMDULILLAH.” (HR Abu Dawud)

“Dari Timirdzi meriwayatkan bagian dari hadits tersebut dengan sanad ini, dan ia berkata: Hadits ini adalah Hasan Shohih”

Mudah-mudahan penjelasan mimpi Shahabat di atas memberikan wacana dan pengetahuan kepada kita semua, dan bermanfaat bagi kita semua. Kisah di atas kami juga sampaikan di bagian blog lainnya yang kami kelola, yaitu http://kisahkisahislam.wordpress.com/. Kami serahkan segalanya kepada Allah swt. Terimakasih atas perhatiannya.

24 Responses to "Asal Muasal Adzan dan Iqomat Melalui Mimpi Shahabat dan Perihal Mimpi Maulana Ilyas"

Anda yang tidak ada adab terhadap syariat yang sudah sempurna ini. Jangan sok-sok seperti tidak mengetahui hal ini. Anda selalu mengarahkan kami ke forum ini dan itu. ……….. [Kami hapus, karena tidak berestetika ilmiyyah]

Sdr. Abu Fadhl,

Terimakasih sudah sampai ke tempat kami, dan juga kami hargai sdr. sudah menjelaskan bahwa tulisan kami sebagai cerpen. Tidak apa-apa, karena itu merupakan hak sdr, dan kami juga tampilkan tulisan-tulisan sdr. di blog kami. Sehingga kaum muslimin dapat membaca apakah memang tulisan kami cerpen, atau anggapan orang yang mengada-ngada terhadap tulisan kami seperti sdr. Saat ini kaum muslimin telah dapat membaca dengan baik, tidak hanya dengan doktrin-doktrin sepihak.

Jika sdr. berkeinginan menyampaikan pandangan atau pendapat, sampaikan saja di forum-forum itu. Sehingga dapat bermudzakarah dengan baik, KECUALI memang sdr. tidak berkeinginan untuk terbiasa bermudzakarah dengan orang-orang yang berbeda pandangan.

Abu fadl menulis : ah, macam aku ngajari anak-anak aja, gak ngerti2…!!
Dasar JT Begok !

Terlebih dahulu, salam kedamaian buat sdr, agar tenang jiwa sdr. Sdr, dari tulisan sdr dan sekutu sdr, kekadang saya bertanya, apakah kalian ini tidak pernah diajar beradab atau tertib muzakarah? Apakah kalian hanya diajar berdebat? Kalau begitu, maaflah, saya katakan ……. [Kami hapus, karena tidak berestetika ilmiyyah]. Bila dikemukakan bukti serta dalil, kalian masih mengherdik.
Sebagaimana sifat Iblis berbeza dengan sifat malaikat dikala menyatakan persoalan mereka diatas kejadian Adam s.a.
Malaikat mula-mulanya begitu gusar, kerana melihat kerosakan alam yang dilakukan oleh mahluk sebelum Adam dijadikan, tetapi atas sifat kebaikan dan bila Allah menjelaskan, maka para malaikat memahami, manakala siIblis pula mempersoalkan akan kejadian Adam atas sifat angkuh dan mulia dirinya serta menolak segalanya. Dan malah semakin membangkang sehingga diri tersingkir dari rahmat Allah.
Perhatikan misalan ini, perhatikan akan sifat ini, sebagai saudara Islam, segala usaha kita wajarnya pertama-tama adalah untuk kebaikan bukan kerosakan..

@admin Haitan,
Sekali lagi saya tegaskan bahwa saya bukan dari kalangan salafy. Saya dari kalangan kaum muslimin. Bukan kayak saudara dari Kelompok/Firqoh JT. Islam ini awalnya 1 bung, tidak ada JT, tidak ada IM, tidak ada HTI. semua itu sesat, karena mengikuti jalan syethan yang memecah belah umat ini. Camkan !!!

Saya tidak terbiasa mudzakarah dengan orang-orang JT …[Kami hapus, karena tidak berestetika ilmiyyah]…. Sok-sok menambah-tambah Syariat dengan amalan baru “Khuruj” itu.

Anda jangan sok telah menggunakan estetika ilmiyah. Toh semua itu dibuktikan dengan tulisan anda yang bak “cerpen”.

Anda sok-sok melemparkan penilaian kepada khalayak, padahal kebanyakan orang/khalayak itu disebutkan tidak bersyukur, tidak mengetahui dll. Coba loe pelajari lagi Al-Quran, jangan loe cuma ngubet2 di fadoilul ‘amal aja.

Dasar, …. [Kami hapus, karena tidak berestetika ilmiyyah]…. !!! Berani-beraninya membuat syariat baru!!

Sdr. Abufadhl,

Terimakasih sdr. sudah sudi datang ke tempat, dan tidak pernah bosan. Mudah-mudahan kaum muslimin yang sdr. sebutkan di atas, termasuk kami dan juga sdr. termasuk ke dalam ahli surga dan juga dapat menyampaikan kebaikan-kebaikan di kalangan kaum muslimin.

Jika sdr. menganggap tulisan-tulisan kami sebagai cerpen, itu menjadi pandangan sdr. Tetapi kaum muslimin yang lain dapat mempertimbangkan apakah memang sebagai cerpen, atau hanya tuduhan semata.

Dan kita semua dijauhkan dari golongan yang sering memecah-belah kaum muslimin, atau kita juga dijauhkan dari sifat munafiq yang mengucapkan sebagai seorang muslim, tetapi jiwanya seorang fasiq. Kita semua berlindung dari jiwa seperti ini kepada Allah swt, agar dijauhkan dari jiwa kami dan juga jiwa sdr. Amin.

Ass. Afwan numpang lewat..

g usah dilayani akh..!!!
seseorang jika memang tidak suka terhadap sesuatu..maka 1000 alasan ia akan katakan..!!!

Semoga Allah SWT, memberikan hidayahnya..Amiiin.

Wss

Assalamu ‘alaikum,

Imam Al-Bukhari RAH.A menuliskan khabar gembira tentang penerimaan usahanya menerusi Kitab Jaami’ Sohih-nya melalui mimpi beliau bertemu Rasulullah SAW. Adakah pernah didengar, hujah bahwa Kitab Sohih Bukhari itu disepakati kesohihannya kerana mimpinya Imam Al-Bukhari RAH.A? Tidak, bahkan kerana hujah ilmiyyah sebagaimana yang dikenal di dalam ilmu hadith dsb.

Begitu juga, dengan mimpi Maulana Muhammad Ilyas RAH.A. Beliau bermimpi dipenghujung usianya, yakni setelah usaha da’wah dan tabligh ini dijalankan sekalian lama. Mungkin ini hanyalah khabar gembira buat beliau, atas fikr, pengorbanan dan usaha yang beliau telah curahkan. Tetapi tidak pernah saya baca atau dengar daripada masyaikh yang memimpin usaha ini bahawa sohihnya manhaj usaha agama ini didasarkan hujahnya atas mimpi tersebut.

Di hadapan kita usaha da’wah dan tabligh dengan segala pola tarbiyahnya, manhajnya, struktur organisasinya; malah amat terbuka sekali. Semua mesyuaratnya, bisa diikuti oleh siapa sahaja. Kitab muqarrarnya tersebar luas secara terbuka. Bayan-bayannya bisa dihadiri oleh sesiapa saja. Tiada usrah yang rahsia-rahsiaan. Segalanya diadakan di masjid.

Dan dihadapan kita, juga ada Al-Quran dan As-Sunnah, disertai segala macam ilmu bagi memahami keduanya baik masalah aqidah, fiqh, akhlaq / tasawwuf / adab, sirah, sejarah dsb.

Kenapa mimpi itu yang diributkan? Apa ada yang berhujah atas keimaman Syaikh Al-Albani RAH.A kerana mimpi seorang muslimah yang bertemu dengan Rasullah SAW? (sebagaimana yang saya pernah terbaca berkenaan Fadhilatus-Syaikh)

Alangkah ajaibnya umat akhir zaman ini!!! Oh Allah.. Selamatkanlah umat hujuuuuuung akhir zaman ini! Demi jah-nya Hadrat Rasulillah SAW!

sekarang bagaimana caranya diri kita, keluarga kita, tetangga kita, kampung kita bahkan umat seluruh alam dapat terhindar dari azab nya Allah dam masuk sorga nya Allah.. khan perlu ada yang menyampaikan.. ga mungkin duduk-duduk aja baca kitab mulu.. emangnya di Indonesia ada islam ga ada yang menyampaikan..

apa kita pernah ributkan para pendeta missionaris agama lain yang menghabiskan banyak waktu untuk menyampaikan agama mereka.. sehingga banyak saudara kita yang jadi KAFIR.. malah kita pertentangkan saudara kita yang mengorbankan dirinya dan hartanya untuk tegaknya agama Allah.. Pikir donk..

Sdr. Abu Ghony,

Mudah-mudahan kita meningkatkan pikir dan risau. Amin.

Terimakasih.

Jangan lupa kita bukan “manusia(umat) biasa”, kita adalah umat terbaik umat nabi Muhammad SAW, yang dipilih oleh Allah untuk tugas amar ma’ruf dan nahi munkar (QS.3:110). Dan hal ini tidak diberikan Allah untuk umat-umat sebelumnya.

Coba terangkan syariat yang melarang untuk menuntut ilmu dengan metode keluar berdawah dijalan Allah?

buktikan bahwa metode khuruj yang di galakkan oleh syeikh Maulana Ilyas bertentangan dengan aturan yang ada dalam Al-Qur’an dan As-sunnah?

Kalau ada yang bertanya “Mengapa khuruj harus dibatasi waktunya 3 hari , 40 hari, atau 4 bulan?”

Maka sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita perjelas terlebih dahulu apakah benar waktu 3 hari, 40 hari atau 4 bulan tersebut diharuskan atau dipatenkan waktunya?

Pada kenyataannya waktu untuk keluar(khuruj) bisa diubah dengan cara musyawarah bersama.

Sekarang bagaimana dengan para ustadz yang belajar Agama ke Makkah atau Madinah selama dua tahun? atau selama 5 tahun?

Apakah belajar agama selama 2 tahun atau 5 tahun sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah?

atau sebaliknya adakah syariat yang melarang untuk keluar belajar di Makkah atau Madinah selama 2 tahun atau 5 tahun?

Sungguh kita musti hati-hati untuk mengatakan bahwa metode belajar dawah seseorang itu melanggar atau mengatakan tidak ada dalam syariat dan menyalahkannya jika tanpa bukti-bukti yang nyata.

Abu Bakar Ash Shidiq mengatakan ;” Tidaklah suatu amalanpun yg dilakukan 0leh Rasululallah kecuali pasti saya juga melakukannya dan saya takut jika saya tinggalkan sesuata darinya lalu saya sesat.”
Wahai orang yg mau berfikir orang yg paling jujur sekaliber Abu Bakar , khawatir terhadap dirinya untuk tersesat jika menyelisihi sesuatu dari jalan Nabi.
Maka bagaimana jadinya dg sebuah jaman yg penduduknya mengolok-olok peritah Nabi mereka bahkan berbangga dengan menyelisihi dan mengolok-oloknya ?.

Terimakasih dengan ucapan Abu Bakar RA itu. Merupakan pandangan kami yang sudah cukup lama, bahkan sebelum berkenalan dengan usaha da’wah ini. Dan untuk lebih mengetahui kerja da’wah ini, maka kita seharusnya banyak melakukan mudzakarah secara Ilmiyyah. TETAPI secara baik dan sistematika.

Kami yang banyak terlibat dalam bidang Knowledge Management, dan juga pengembangan Kurikulum Keislaman ketika dalam pengembangan Pesantren Islam, perkara Ilmiyyah untuk membahas topik-topik secara sistematik merupakan keharusan, dan perlu dibuka seluas-luasnya, berdasarkan pada sumber-sumber yang benar. Tidak langsung pada perkara yang sebenarnya tidak perlu untuk dibahas.

Orang sombong ketika disodori kebenaran . dia tolak mentah-mentah hanya karena tidak sesuai dg hawa nafsunya, seleranya. dan adatistiadatnya. Inilah sebenarnya yg dinamakan sombong.
Rasulullah pernah bersabda :” Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang.” (HR Muslim).
Kesombongan satu sifat yg bisa menghalangi seseorang dari ilmu dan kebenaran .Sifat tercela ini juga akan
mengakibatkan kemurkaan Allah ta’ala sebaimana firmannya :” Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dg angkuh
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yg
sombong lagi membanggakan diri.”
Begitu pula orang yg diliputi rasa malu yg mengakibatkan meninggalkan majelis ilmu dan enggan belajar ilmu agama .
malu tidak pada . Orangyg seperti inipun tidak akan mendapat ilmu.
Permasalahan yg semestinya ditanyakan pada orang yg mengerti agama. Namun karena malu urungkan untuk bertanya. Akubatnya dia tidak mendapatkan ilmu untuk menuntaskan kebingungan yg dihadapi karena malu bertanya pada orang mengerti ilmu agama.
Kesombongan dan rasa malu dua hal yg bisa menutup pintu

terkadang jadi mikir juga…. siapa yang sombong yah..
dah di kasih penjelasan masih ga nerima juga…

teringat kata orang tua dulu, kalo ayam bertelor suka bersuara tuh ayam betina…

orang sombong juga biar ga ketahuan sombong, dia berkoar-koar duluan….

Kesombong dan rasa malu , dua hal yg bisa menutup pintu-pintu ilmu yg sangat banyak dan lebar.
Kami memohon kepada Allah ta’ala agar dijauhkan dari dua sifat ini, sehingga kita tidak terhalang dari ilmu yg bermanfaat disertai permohonan Allah ta’ala menambah pada kita ilmu yg bermanfaat sehingga mudah menerima kebenaran , amin

Assalamu ‘alaikum,

Tidak pernah ada masyaikh di dalam usaha dakwah dan tabligh ini menggunakan mimpi Syaikh Ilyas RAH.A sebagai asas dalil dan hujah kebenaran dan haqnya usaha ini.

Dan Fadhilatusy-syaikh Abu Bakar Al-Jaza-iri telah menulis dengan tuntas akan sahnya manhaj usaha dakwah ini melalui penulisannya yang khusus.

Semoga taufiq Allah sentiasa bersama kita.

Wassalam.

Kesombongan itu kalau tidak mau mendengar pandangan orang lain kemudian sering menghapus pandangan orang lain yang diposting di blog-nya, kemudian kalau berkata di blog orang lain mintanya ditanggapi terus.

[Diedit]

Wah, masih aja berpolemik dengan mimpi Mawlana Ilyas Rahimullah bertemu dengan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam yah?… mungkin kurang jelas bagi yang belum paham dan memang susah untuk dipahami karena sudah lebih dulu memiliki prasangka :)

Saya coba sederhanakan prosesnya (kalau masih belum paham juga berarti saya yang salah dan perlu belajar lagi)

1. Mimpi bertemu Nabi adalah kabar gembira/berita baik.

2. Nabi menjelaskan kepada Mawlana Ilyas (dalam mimpinya) tentang tafsir Ali Imran 110 yang pointnya: Sebagai umat terbaik memiliki tugas seperti para Nabi, Da’wah ke seluruh tempat/tidak hanya di satu tempat saja, Ber-amar ma’ruf nahi munkar

3. Setelah bermimpi bertemu dengan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam Mawlana Ilyas ber-IJTIHAD untuk membentuk Jama’ah Da’wah/Jihad sebagaimana Jama’ah Da’wah/Jihad yang dibentuk oleh Nabi pada para shahabatnya.

Jadi KHURUJ hanyalah IJTIHAD beliau, adapun mimpi bertemu dengan Nabi yang dialami beliau adalah kabar gembira/penyemangat untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar.

————–

Perlu diingat, Jama’ah Jihad Shahabat tidak hanya bertugas membantai musuh, membuat anak menjadi yatim, istri menjadi janda, memisahkan kepala dari badan, memporak-porandakan wilayah musuh…setidak ada 3 hal didalamnya:

1. Da’wah illallah

2. Tazkiyah/Ishlah diri (banyak fadhilah, ampunan, rahmat dan pahala yang disediakan bagi orang2 yang berada dijalan Allah ini/Jihad.)

3. Silaturahmi (menjadi ajang pertemuan bagi muhajirin, anshar dan suku2 lainnya yang memang hanya bertemu dalam saat2 tertentu saja)

Sementara ini dulu, Semoga bermanfaat.

Coba simak fatwa berikut. Didalamnya juga ada komentar syaikh Utsaimin perihal khuruj 3hr, 40hr, 4bln, setahun dll.

http://www.banglakitab.com/ShaikhUtheymenTablighAnswer.htm

Sdr. Abu Tsabit,

Terimakasih telah sudi datang ke tempat kami.

Ya ALLAH!!kau berilah keputusan ke atas mereka-mereka yang tidak menyenangi dan menentang kerja dakwah kekasih Mu Muhammad,,>>>kau berilah hidayah kepada mereka ……aminnn. [edited]

Assalamualaikum wr.wb

Saudara/saudariku yang dimuliakan Allah SWT

Saya ingin mengajak berpikir dan merenungi kenyataan yang terjadi di kehidupan kita dan kehidupan umat nabi SAW yang mulia ini :

Orang dulu beroleh iman dan ilmu agama ISLAM yang SEMPURNA bukan hanya lewat mudzakaroh dan apalagi mendapatkan iman dan ilmu dari buku-buku, akan tetapi dengan pengorbanan segalanya dijalan Allah , contoh : SahabatAbu Bakar Asshidiq yang menyerahkan seluruh harta, diri, waktu dan keluarga di jalan Allah sehingga Nabi memuji beliau sebagai salah satu orang yang paling benar Iman dan Islamnya

Dari situlah mereka telah meraih nikmatnya iman dan ilmu Agama yang SEMPURNA yang langsung dipraktekkan di medan perjuangan dakwah.

para sahabat, para tabiin, tabiuttabiiin, para syuhada, para wali dan para juru dakwah setelah mereka, datang berdakwah dan bertabligh mendatangi umat ke Tanah Nusantara dan keseluruh penjuru negeri-negeri di dunia dengan pengorbanan, tinggalkan rumah, tanah air, keluarga dll, serta kesenangan-kesenagan hidup di dunia yang di dalam AlQur’an disebutkan sebagai kesenangan hidup yang sementara, fana dan sering melenakan/melalaikan manusia dari agama, karena saking pahamnya mereka atas agama yang mulia ini dan pentingnya untuk melanjutkan risalah dakwah ini yakni usaha atas agama demi mencapai keselamatan dirinya sendiri, kesempurnaan agamanya, keselamatan keluarganya dan demi keselamatan umat manusia seluruhnya sebagaimana yang di contohkan dan diperintahkan Nabi SAW yang mulia (sampai dengan hari ini perjuangan tersebut terus berlanjut/coba baca sejarah dan cocokkan dengan kenyataan yang ada)Jadi Agama tersebar tidak dibawa angin…tapi lewat pengorbanan orang-orang yang mulia tersebut.

berkat pengorbanan mereka yang mulia, kita umat Islam dapat terlahir ke dunia ini langsung beragama islam (meskipun hanya warisan dari orang tua kita)

ini jasa siapa ?… kita hari ini bisa sholat, bisa taklim dengan ulama-ulama kita , bisa dakwah, dll… ini jasa siapa?

Andaikan Negeri ini seperti Amerika yang belum begitu ada orang berdakwah dari dulu- dulu, sehingga sampai saat ini mereka masih belum menikmati agama yang mulia ini dan masih berkubang dengan kemaksiatan…. sekali lagi ini jasa siapa ?…

Lantas.. pantaskah kita setelah kita telah menikmati semua jerih payah pengorbanan dengan diri dan harta orang-orang dahulu, lantas kita mencaci maki..mereka .. menbid’ahkan mereka, menyasatkan mereka dengan alasan.. menurut ulama kami begini..begitu..

Ya Allah,, coba pikirkan semua ini, renungkan saudara/saudariku..

Mungkin jika kita hidup di negeri Kafir, saat ini kita juga masih kafir dan jahil,, jauh dari sunah2 nabi yang mulia, belum duduk dalam halaqoh taklim bersama teman-teman muslim kita dan dengan para ulama atau para masyaikh kita.

Kalo kita hari ini setelah dapat ilmu dari ulama kita, terus kita merasa paling benar dan paling berilmu kemudian menyalahkan saudara-saudari kita yang tidak menimba ilmu dari ulama yang sama. Ppantaskah kita berahlak seperti itu, lantas manakah arti slogan “kami ahlu sunnah yang mengikuti agama seperti yang di contohkan Nabi SAW dan para Sahabat RA”. Apakah ahlak seperti itu Sunnah ??? Apakah ahllak Nabi seperti itu ? bicara kasar dengan saudara muslim, menuduh orang, menyesatkan orang sampai Naudzubillah mengkafirkan saudara muslim yang belum tentu benar-benar salahnya. Apakah Ada dalil atau jaminan dari Allah SWT bahwa anda yang paling benar dan ulama anda itulah yang paling benar dan masuk surga sehingga yang lain pasti dan pasti masuk neraka. Coba mana saya pingin tahu.. Coba antum/anti belajar lagi agama ini. Karena islam itu bukan hanya akidah dan ibadah saja akan tetapi yang namanya Dien atau agama Islam yang sempurna itu adalah meliputi Imaniyah, Ubudiyah, Muamalah, Muasyararoh, Ahlak mengikuti seluruh kehidupan Nabi SAW selama 24 Jam. termasuk, bersiwak, berbicara dengan ahlak yang mulia kepada sesama manusia terlebih-lebih kepada sesama muslim. Coba koreksi diri anda sendiri apakah kehidupan anda sudah sesuai dengan kehidupan Nabi dan para salafus shleh yang mulia mulai anda bangun tidur sampai anda tidur lagi. apa saja sunah-sunah nabi yang telah anda jalankan…kemudian muamalah anda sudahkah sesuai dengan cara Nabi? muasyaraoh anda ? ahlak anda ?

Semoga sedikit tulisan ini dapat menjadi bahan renungkan bagi kita.. apakah memang sudah benar cara kita beragama saat ini, dalam hubungan kita dengan Allah SWT dan hubungan kita dengan sesama sehingga Islam ini dapat wujud dalam diri kita, keluarga dan Umat Seluruh Alam. Amin

dan kepada moderator saya sampaikan terima kasih dan salut saya atas ketinggian ahlak anda, dan kesabaran serta keluasan ilmu anda. Semoga Allah SWT meridhloi anda dalam perjuangan dakwah dan tabligh yang mulia ini. Juga salam saya kepada saudara/saudariku yang mulia dalam forum ini.

Saya sendiri masih sangat bodoh dalam usaha Nabi yang mulia ini, dan tulisan-tulisan bapak yang menyejukan hati kiranya bisa menambah pemahaman saya atas agama dan usaha atas agama ini. Insya Allah niat dakwah sbg maksud hidup, hidup dalam dakwah, dan mati dalam perjuangan dakwah.

Wassalamualaikum wr.wb

assamualaikum,..
buat saudaraku haitan rahman,..
tetap semangat dalam menjalankan usaha da’wah,..
jgn pernah tinggal kan usaha yg mulia ini barang sedetikpun,..
agar kita tidak menyesal dikemudian hari,,..
karena selama kita masih berada dimuka bumi,..
kita belum paham akan maksud hidup ini,..
kita semua akan paham manakala berada didalam kubur,..
bahwa usaha ini adalah usaha yg sangat mulia,..
semoga kita diistiqomahkan sampai akhir hayat pd usaha ini,..
tambah pengorbanan lagi dan lagi sampai kita tidak ada lagi,..
tingkatkan amal maqomi, agar hidayah tersebar keseluruh alam,..
nanti disambung lg,..
salam kenal,
wassalamualaikum,..
by. syihabuddin ahmad banjarmasin

Sdr. syihabuddin ahmad,
Wa’alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh,

Kami banyak mengucapkan terimakasih dengan pesan yang disampaikan.

Terimakasih banyak

sering terdengar beberapa kelompok orang yang mengatakan 3 hari, 40..dst.. Tidak ada dalilnya !!, sehingga dari dasar “tidak ada dalilnya” inilah, disebut bid’ah, karena Rasulullah tidak menyuruh, tidak menyebutkan, dan tidak pernah khuruj 3, 40 atau 4bln.
Namun apabila diperhatikan, ternyata banyak hal-hal yang memang tidak ada dalilnya, tapi dikerjakan orang mayoritas umat islam hari ini.
Misalnya pengajian malam jum’at (seperti yang dibuat oleh bebrpa Ulama2 kondang), pondok pesantren (di zaman rasulullah tidak ada pondok pesantren). dst..

Coba kita simak riwayat tentang pengumpulan Al-qur’an,

Dari Zaid bin Tsabit r.a:
“Suatu ketika Abu bakar menemuiku untuk menginformasikan perihal tentang korban pada perang yamamah (terjadi pada tahun 12 H) , ternyata Umar juga bersamanya.

Abu Bakar berkata :” Umar menghadap kapadaku dan mengatakan bahwa korban yang gugur pada perang Yamamah sangat banyak khususnya dari kalangan para penghafal Al-Qur’an, aku khawatir kejadian hal serupa yang akan menimpa para penghafal Al-Qur’an di beberapa tempat, sehingga suatu saat nanti tidak akan ada lagi sahabat yang hafal Al-Qur’an, menurutku sudah saatnya engkau wahai khalifah memerintahkan untuk mengumpul-kan Al-Qur’an, lalu aku berkata kepada Umar : ” bagaimana mungkin kita melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah s. a. w. ?”

Umar menjawab: “Demi Allah, ini adalah sebuah kebaikan”.
Selanjutnya Umar selalu saja mendesakku untuk melakukannya sehingga Allah melapangkan hatiku, maka aku setuju dengan usul umar untuk mengumpulkan Al-Qur’an.

Zaid berkata: Abu bakar berkata kepadaku : “engkau adalah seorang pemuda yang cerdas dan pandai, kami tidak meragukan hal itu, dulu engkau menulis wahyu (Al-Qur’an) untuk Rasulullah s. a. w., maka sekarang periksa dan telitilah Al-Qur’an lalu kumpulkanlah menjadi sebuah mushaf”.

Zaid berkata : “Demi Allah, andaikata mereka memerintahkan aku untuk memindah salah satu gunung tidak akan lebih berat dariku dan pada memerintahkan aku untuk mengumpulkan Al-Qur’an

Abu Bakar menjawab: “Demi Allah, itu tindakan yang mulia.

Abu
Bakar terus memaksaku untuk menerima tugas ini, sehingga Allah melapangkan
hatiku untuk menerimanya sebagaimana Allah lapangkan hati Abu Bakar dan Umar. maka aku pun mulai mengumpulkannya dari pelepah kurma, lempengan batu dan
mendengarkan dari hafalan para sahabat , sehingga aku menjumpai
ayat terakhir dalam surah At-Taubah dari Khuzaimah al-Ansari, yang belum pernah
aku dapati dari orang lain.

“Laqad jaa-akum rasuulun min anfusikum…”
(hingga akhir surah Baraa-ah).
Lembaran2 (suhuf) yang aku tuliskan itu di simpan oleh Abu Bakar hingga akhir hayatnya. kemudian di turunkan pada Umar bin khottob, dan berpindah kepada anaknya Hafsah setelah wafatnya.
(HR Buhkhori fi fadoil al-qur’an, bab:jam’u al-qur’an,487).

ada kata yang perlu digaris bawahi, yaitu :

“bagaimana mungkin kita melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah s. a. w. ?”

Jadi, hari ini kita membaca Al-qur’an yang sempurna 30 juz, padahal di zaman Rasulullah tidak ada Al-qur’an yang berbentuk seperti sekarang.

Pertanyaannya, apakah membaca Al-Qur’an sekarang juga jadi bid’ah, karena Rasulullah saw tidak membaca Al-qur’an yang seperti sekarang ?

Lucunya lagi, ada orang yang bilang 3H, 40H, 4bln, adlah Bid’ah, tidak ada dalilnya !. Tapi dia ikut pengajian tiap hari Ahad pagi setiap jam 8, yang jelas tidak ada dalilnya kalau mau belajar ilmu harus tiap hari Ahad pagi jam 8.

Sekarang katakanlah, banyak saudara2 kita yang berdakwah dengan cara2 yang tidak dicontohkan Rasulullah, terus yang jadi pertanyaan adalah solusinya bagaimana ?, bagaimana dakwah yang dicontohkan Rasulullah ?
apakah dengan diam di rumah saja, apakah dengan kajian-kajian saja?, atau dengan selebaran ke mesjid2 ?

Ya Allah satukanlah umat islam, kirimkanlah mereka semua ke seluruh alam untuk menyampaikan pentingnya agama. Aamiin

Pak Agus,

Kita mesti banyak berdo’a kepada Allah swt, karena yang kita pikirkan adalah Hidayah Allah swt yang mana hal ini merupakan keputusan Allah swt untuk ummat manusia termasuk kepada kita juga. Pikir kita adalah bagaimana hidayah Allah swt tersebar ke seluruh alam, dan untuk mendatangkan hidayah Allah swt ini perlu dengan kerja dan do’a.

Mudah-mudahan kita tetap menjaga pikir dan do’a untuk tersebarnya hidayah Allah swt ini, karena perkara ini merupakan hal yang sangat fundamental dalam kehidupan ummat manusia termasuk dengan kita sendiri.

Terimakasih,

http://trulyislam.blogspot.com/

bagusnya blog tsb diapain ya

Kpd sdr Abu Fadhl & Ummi Hanif mari kita baca dan cermati, berbagai pandangan yg ada di blog ini, kmdian renungkan, lalu berkaca. Jika anda tdk merasa malu dg komentar yg anda tulis, maka perlu anda ketahui, mungkin krn bodoh dan dhoif saya terus terang membacanya saja saya malu dan sedih melihat kenyataan bhw umatnya nabi yg berakhlak mulia masih blm mampu meneladani sdktpun kemuliaan akhlak nabi bahkan untk skdr menggunakan adab dlm menyampaikan tanggapan. Untuk sdr Haitan mari kita banyak beristighfar mohon ampunan Alloh, krn mungkin disbbkan dosa2 kita shg niat baik yg sdr sampaikan tdk mampu diterjemah dg baik dan tlh mengotori hati sdr2 kita dgn kedengkian dan kebencian. Semoga Alloh mengampuni kita semua. Wassalam

Leave a Reply